Puasa Mendidik Jiwa Yang Istiqamah

BAB I
PEBDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia diciptakan agar mereka mengenal dan menyembah Allah SWT. Sebagai manifestasi terhadap hak rububiyyah dan uluhiyyah-Nya.

Firman Allah SWT :
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbr߉ç7÷èu‹Ï9 ÇÎÏÈ
Artinya : Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar supaya mereka menyembahKu (QS. Adz Dzaariyaat : 56).
Dengan dermikian islam telah menjadikan ibadah sebagai perimtah pertama yang harus ditunaikan oleh manusia, hanya diperuntukan oleh Allah Taala saja. Rukun islam dan seluruh ajarannya yang agung itu sudah mengucapkan dua kalimat syahadat adalah : mendirikan shalat, puasa ramadhan, membayar zaat, dan berhaji ke Bitul Haram, kesemuanya itu merupakan cermin dari macam-macam ibadah yang dilakukan dengan niat semata-mata karena Allah Taala. Puasa merupakan ibadah yang tercermin dalam sikap meninggalkan dan menahan diri dari segala hal yang membatalkannya.
Namun demikian ibadah yang tercermin dalam sikap meninggalkan dan menahan diri ini bukan sesuatu yang bersifat negatif. Dan yang menjadikan sikap demikian mempunyai nilai ibadah adalah dikarenakan orang muslim melakukan hal itu atas kehendak dan pilihannya dengan motif (niat) mendekatkan diri kepada Allah Taala, mala oleh karenanya tindakan tindakan rohani dan jasmani seperti ini bersifat positif yang mempunyai nilai positif pula dalam neraca timbangan amal.
Ibadah puasa bukan hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum, tetapi dimaksudkan untuk mewujudkan pribadi yang bertaqwa. Oleh sebab itu ayat perintah puasa dalam surat Al-Baqarah ayat 183 dengan untaian kalimat :

öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs? ÇÊÑÌÈ
Artinya : Agar kalian bertaqwa.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang diatas maka suatu permasalahan yang timbul adalah :
Apa yang dilakukan dalam mendidik jiwa yang istiqomah dalam menjalankan puasa ?
Sejauh mana puasa bisa mendidik jiwa yang istiqomah ?
Faktor apasaja yang menghambat orang untuk menjalankan puasa ?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan Karya Tulis ini adalah :
Memenuhi tugas kemahasiswaan yang diberikan pihak akademik pada Mahasiswa D. II PAI STAI Kuala Kapuas
Untuk mengetahui sebab –sebab orang menjalankan ibadah puasa
Untuk memperluas ilmu pengetahuan tentang puasa dan hubungannya dengan mendidik jiwa yang istiqomah dan menghidupkan ruhul jihad
untuk mengetahui faktor apa saja yang menghambat orang untuk menjalankan puasa.

D. Metode Penulisan
Dalam penulisan Karya Tulis ini penulis menggunakan metode
Kepustakaan, yaitu mempelajari buku-buku dan mengembangkan bahan – bahan yang ada hubungannya dengan Karya Tulis ini.
Empiris, artinya Karya Tulis ini dibuat berdasarkan pengembangan dan pengetahuan yang ada kaitannya dengan masalah yang penulis buat.

BAB II
PUASA MENDIDIK JIWA YANG ISTIQAMAH

A. Pengertian Istiqamah
Sebelum penulis uraikan tentang hubungan puasa dalam mendidik jiwa yang istiqamah, terlebih dahulu akan menguraikan sekilas tentang istiqamah tersebut.
Istiqamah artinya berpendirian kuat atau kukuh, yaitu berketetapan hati, tekun dan terus menerus dalam meyakini atau melakukan sesuatu.

B. Puasa Dalam Mendidik Jiwa Yang Istiqamah
Beristiqamah berarti memiliki pendirian yang tidak mudah goyah dan tidak mudah berubah karena godaan yang menggiurkan. Orang yang istiqamah ialah seseorang yang tekun dalam usaha mencapai cita-citanya. Ia tidak mudah putus asa, karena mantap hatinya, ia tidak mudah cemas, sebab kukuh pendiriannya demikian pula ia tidak mudah berubah pendiriannya kapanpun dan bagaimanapun keadaan yang ia hadapi.
Hal diatas tentunya sangat berkaitan dengan ibadah puasa, ibadah yang menuntut keharusan untuk berjiwa yang istiqamah. Dalam menjalankan ibadah puasa seseorang harus teguh pendiriannya walau tidak ada seorang manusia pun yang melihat ia tetap harus menjalankan ibadah puasa. Tentunya hanyaorang yang berjiwa istiqamahlah yang dapat menjalankan ibadah puasa.
Orang yang berpuasa tetunya adalah orang yang beriman kepada Allah SWT karena sudah tetulis dalam Al-Qur’an surat Albaqarah ayat 183 :
$yg•ƒr’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä |=ÏGä. ãNà6ø‹n=tæ ãP$u‹Å_Á9$#
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa” (Q.S.Al-Baqarah : 183)

Kita mengetahui bahwa puasa adalah rukun Islam yang ketiga. Berpuasa adalah tanda islamnya seseorang. Tanda ia seorang Islam, ia berpuasa. Tetapi pada ayat diats Allah tidak menyeru orang Islam untuk diwajibkan berpuasa. Yang dipanggil Allah dan diperintahkan berpuasa adalah “orang yang beriman”. Kenapa ? karena berpuasa itu adalah perbuatan yang harus datang dan timbul dari kesadaran jiwa yang beriman.
Kalau tidak datang dari kesadaran jiwa yang beriman dan jiwa yang istiqamah, maka akan sangat berat rasanya bagi seorang muslim untuk mengerjakan ibadah puasa tersebut.
Hal diatas sesuai dengan Hadits Rasulullah SAW Yang artinya : “Dari Abi Amrah, dikatakan Abi Hamrah Sufyan Bin Abdullah r.a, telah berkata : aku telah bertanya, Hai Rasululah, katakanlah padaku tentang Islam, yang tidak akan aku tanyakan kepada seseorang selain kepadamu, Rasulullah Bersabda : Katakanlah! Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqomahlah engkau. (H.R.Muslim).
Hadits tersebut diatas, menyatakan bahwa seseorang telah mengikrarkan keimanan dan keyakinannya kepada Allah SWT kemudian keimanannya itu hendaknya teguh dan tetap istiqamah, walaupun kehidupannya dalam keaadaan susah, sulit menderita dan serba kurang misalnya, ia tidak amu begitu saja menukar keimanannya itu karena rayuan dan godaan kehidupan yang berkecukupan atau serba mewah. Begitu pula halnya dengan menjlankan ibadah puasa seseorang tidak akan menukar ibadah pasanya hanya karena secangkir Es Sirup, Secangkir Air susu ditengah panasnya terik matahari walaupun tidak ada yang melihat ia kala ia meminum secangkir minuman tersebut.
Kita berjuang menegakkan pelaksanaan ajaran-ajaran islam dengan gagah dan bersemangat keikhlasan mengendalikan hawa nafsu dan pikiran untuk menuju keridhoan Allah SWT, maka dengan puasa apakah kita tetap istiqomah / konsesten, mampu berbuat dan bertindak semacam itu? Dihadapan kita ini terbentang medan jihad, berjuang untuk menegakkan islam, inilah yang disebut dengan :
Abu Jar bertanya : ya rasulullah, amal-amal apakah yang paling utama?
Rasulullah SAW menjawab:
“Beriman kepada Allah dan berjihad dijalan – Nya”.
Jihad Sabilillah, jangan hanya memukul genderang perang dan mengangkat senjata, pikiran itu adalah salah dan sangat keliru.
Menurut Syeh Abduh Halim mahmud, guru besar Universitas Al-Azhar di mesir, jihad ada bermacam-macam
a. Jihadul Harby, jihad perang
b. Jihadul Nafsy, jihad di dalam diri sendiri
c. Jihadul Usiah, jihad dikalangan keluarga
d. Jihadul Mujtama, jihad di dalam masyarakat
Jihadul Harby adalah pengertian jihad dengan perang, sebenarnya hanyalah bagian dari jihad di jalan Allah. Hal ini diperlukan bila mana keadaan menghendaki, yakni umpamanya manakala iman terancam atau agama islam menghadapi dorongan. Jihad di jalan Allah di masa damai sebenarnya lebih berat dari pada dalam keadaan perang. Dalam keadaan perang musuh nampak kelihatan, sedang dimasa damai sebaliknya, musuh tidak tidak tampak tetapi ia ada disekeliling kita dan mungkin masuk kedalam jiwa kita. Ia selalu mengintai dan menunggu kesempatan untuk menerkam kita, yakni yang disebut nafsu dan godaan syetan.
Jihadul Nafsy, jihad di dalam diri sendiri ialah agar seorang muslim betul-betul memelihara dan menegakkan beberapa hal dalam dirinya, yakni :
a. Istiqomah / konsesten dalam iman dan taubat
b. Istiqomah / konsesten dalam melaksanakan ibadah fardhu
c. Mulazamah ( membiasakan secara rutin) berbuat sesuatu yang abdhol (yang terbaik).
Istiqomah dalam iman, pernah diriwayatkan oleh seseorang meninta nasehat kepada Rasulullah SAW. Rasulullahpun menasehatinya dengan kalimat pendek, namun sangat menentukan yaitu :
Yang artinya katakanlah, aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah.
Istiqomah / konsesten dalam iman di dalam diri memerlukan perjuangan atau jihad, karena betapa banyaknya kendala di dalam kehidupan ini, godaan yang menarik adalah adalah rayuan dunia yang menjerat, sehingga istiqomah imanpun menjadi goyah. Sesudah itu seseorang hendaklah memelihara taubat. Betapa banyak lidah seseorang mengatakan “ Astagfirullah “ permohonan ampun kepada Allah senagai pertama taubat,namun kadang-kadang dengan mudah sekali ia mengulangi kekeliruan dan dosa yang ia mohonkan ampun tersebut.
Istiqomah dalam melaksanakan ibadah fardhu, dimaksudkan ialah agar seseorang berupaya sepenuhnya melaksanakan ibadah yang dibebankan kepadanya.
Istiqomah yakni membiasakan sesuatu yang terbaik (afdhol) dapat kita contohkan seperti dalam melaksanakan shalat. Umpamanya Nabi SAW pernah menyatakan :
Artinya : Seutama-utama perbuatan (amal) adalah sholat di awal waktunya.
Jihadul Usrah ( jihad dalam keluarga), yakni agar agama tegak di dalam lingkungan keluarga. Yang tentunya dimulai dari rumah tangga. Di dalam situasi dunia sekarang ini, dimana arus informasi modern, era globalisasi, beradaditengah-tengah lingkungan kita, memang berat kendala-kendala yang kita hadapi, namun kita berupaya agar keluarga kita adalah keluarga yang taat dalam menjalankan perintah agamanya dan ini adalah memerlukan semangatjihad dalam keluarga.
Menanamkan nilai-nilai keislaman di dalam keluarga adalah juga namanya juga jihad. Firman Allah :
$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3‹Î=÷dr&ur #Y‘$tR

Artinya : Wahai orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluaargamu dari siksa api neraka (At Tahrim, ayat 6)
Mujahid, seorang komentar Al-qur’an dijaman dahulu dalam kitabnya : Tarbiyatul Aulad Fil Islam, Jus I mengatakan : Sesungguhnya anak-anak kalian menjunjung tinggi perintah Allah dan meninggalkan larangan Nya, itulah dia yang dimaksud dengan memelihara mereka “.
Jihad Mujtama (jihad dalam masyarakat), jihad dalam lingkungan keluarga berkelanjutan dengan jihad masyarakat, yakni apa yang disebut “Amar Ma’ruf Nahi Munkar” menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kepada segala keburukan. Amar Ma’ruf Nahi Munkar bukan hanya kebaikan para ulama dan guru dakwah. Amar Ma’ruf adalah kewajiban seluruh anggota masyarakat.
Sabda rasulullah SAW yang artinya : Barang siapa yang melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia merobah dengan tangannya, apabil tidak mampu dengan lidahnya bila juga tidak mampu hendaknya dengan hati dan itulah selemah-lemah iman.

C. Orang Yang Berperan Dalam Mendidik Jiwa Yang Istiqomah Dan Menghidupkan Ruhul Jihad.
Dalam islam dinyatakan bahwa orang islam itu adalah saudara dari persaudaraan inilah dikehendaki adanya kerukunan yang didasari atas dasar taqwa serta kecintaan terhadap Allah SWT. Orang yang berperan dalam mendidik jiwa yang istiqomah tidak hanya tugas para ulama, juru dakwah atau ahli-ahli agama tetapi melainkan tugas kita bersama sebagai umat muslim.
Mendidik jiwa istiqomah adalah sebagian tuntutan amar ma’ruf nahi munkar yang hukumnya fardhu kifayah, dibebankan kepada orang yang mengerti tentang agama. Ulama yang ahli agama yang meliputi seluruh kelompok manusia dalam masyarakat yang menurut Al- Gajali dimulai dari “ ………. Seluruh keluarga dirumah, sesudah keluarganya, diteruskan pula lalu yang jauh kemudian seluruh kampung dan desanya.
Sejauh pembahasan puasa mendidik jiwa yang istiqomah dan menghidupkan ruhul jihad, bahwa puasa yang dimaksud adalah menahan dan mengekang heinginan diri dari makan dan minum, melakukan hubungan seks dan yang membatalkan dimulai dari waktu terbit fajar sampai terbenamnya matahari,dengan motif mematuhi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pada bab terdahulu telah diuraikan tentang pengertian puasa baik dari segi istilah,maka apabila kita memahami tentang pengertian tersebut maka jelaslah bahwa puasa merupakan salah satu kewajiban dari berbagai kewajiban yang telah ditetapkan kedudukan hukumnya secara mutawatir yang harus diyakini keabsahannya dan harus diketahui oleh islam bahwa puasa itu merupakan perintah agama yang bersifat prinsipil.
Di tinjau dari segi siapa saja yang berperan dalam mendidik jiwa yang istiqomah adalah merupakan tugas umat islam yang mengerti agama dilingkungannya.
Akhir-akhir ini perkembangan zaman semakin cepat dan bervariasi yang menyebabkan orang lebih cepat mengungkap ilmu dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Agama islam adalah agama yang berintikan atau ajaran yang menyerahkan diri dan patuh kepada Allah semata dan sebagai umat islam yang bertaqwa kepada Allah SWT maka dari itu apabila seseorang telah memenuhi syarat sebagai berikut hendaknya menjalankan puasa. Syarat-syarat tersebut adalah :
Islam
Balig
Aqil
Kuasa menjalankannya
Dalam keadaan suci
Selain itu faktor-faktor yang berhubungan dengan menjalani puasa adalah niat, karena niat merupakan suatu keharusan dalam puasa. Apabila puasa dikerjakan tanpa ada niat maka dalam menjalankan puasa tidak akan mendapat pahala dari Allah SWT.
Orang yang menjalani puasa berarti belajar menahan diri dari segala sikap dan perbuatan tercela serta menahan diri dari segala ucapan tidak baik.
Tapi sebagian orang ada yang menganggap puasa adalah salah satu faktor penghambat kemajuan dan pengembangan pembangunan. Dengan sebab puasa dikatakan : tubuh menjadi lemas dan lesu, lalu datanglah kuap dankantung sehingga keseriusan menjadi terganggu sebagai ktivitas dan kreativitas menjadi terhambat.
Tetapi bagi kaum muslimin menyakini bahwa sesungguhnya puasa tak akan menghambat segala kegiatan kita, dan dapat dibenarkan bahwa puasa adalah hal yang wajib dikerjakan bagi yang mampu dan tidak akan menghambat segala keinginan kita.
Puasa bila dipandang dari berbagai kepentingannya maka jelaslah puasa itu harus dikerjakan sebab merupakan perintah Allah yang wajib dilaksanakan umat islam di hari-hari yang sudah ditentukan. Puasa merupakan salah satu rukun islam yang ada lima itu.
Orang yang berperan dalam memberi pengertian bahwa puasa itu harus dikerjakan dan semata-mata karena Allah SWT adalah :
Para Ulama
Ulama-ulama
Orang yang mengerti tentang agama
Tanggung jawab kita senua sebagai umat muslim
Orang yang menjalankan puasa berarti belajar menahan diri dari segala sikap dan perbuatan tercela serta menahan diri dari segala ucapan tidak senonoh dari dosa.
Dan dapat dibenarkan bahwa puasa itu harus dikerjakan dan tidak mengganggu kegiatan sehari-hari serta tergantung individu-individu yang menjalaninya. Jadi puasa itu bagi yang mampu haruslah dikerjakan karena mungkin dengan berpuasa orang diharapkan memiliki sifat-sifat yang baik dan mulia selalu berkesinambungan dan menghiasi hidup, dan setelah puasa itu berlalu janganlah hapus tujuan dan hikmah puasa. Ibarat lewatnya air di daun keladi, pergi tanpa pesan dan lenyap tanpa kesan.

BAB III
PUASA MEMBAWA HIKMAH

A Pengertian Puasa
Puasa menurut bahasa artinya “ menahan” sedangkan puasa menurut istilah artinya menahan dan mengekang keinginan diri makan dan minum, melakukan hubungan seks dan yang membatalkandimulai waktu terbit fajar dampai terbenam matahari, dengan motif mematuhi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Setiap orang islam diwajibkan berpuasa pada bulan Ramadhan, sebagaimana diperintahkan oleh Allah dalm firmannya :

$yg•ƒr’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä |=ÏGä. ãNà6ø‹n=tæ ãP$u‹Å_Á9$# $yJx. |=ÏGä. ’n?t㠚úïÏ%©!$# `ÏB öNà6Î=ö7s% öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs? ÇÊÑÌÈ
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan bagi orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (Al – Baqarah : 183)

Puasa menurut istilah syara adalah menahan diri dari dua keinginan yaitu menahan lapar dan haus seperti yang dijelaskan pada Surat Al-baqarah ayat 187, yang dimaksudnya puasa sepperti ini telah dikenal oleh masyarakat Arab sejak pra islam, dimana pada zaman jahiliyah mereka suka melaksanakan puasa pada hari Asyura sebagai penghormatan kepada hari tersebut. Oleh karena itu ketika Nabi SAW memerintahkan puasa di hari Asyura kemudian puasa Ramadhan seperti pada QS. Al-baqarah : 183, merekapun memahami arti puasa tersebut dan bergegas pula untuk melaksanakannya.

B. Puasa dalam Pandangan Islam
Puasa berdasarkan tuntunan islam merupakan puasa terbaik dari sekian macam puasa yang dikenal manusia. Sebagian para pemeluk berbagai agama menjalankan puasa juga. Akan tetapi puasa mereka hanya dalam bentuk puasa yang bersifat rohaniah saja. Walaupun mereka menyatakan bahwa kami sedang berpuasa ternyata tetap saja menyantap makanan dan minuman.
Puasa adalah kewajiban yang dikuduskan ( disucikan) dan merupakan suatu bentuk ibadah dari bermacam-macam bentuk ibadah yang melambangkan keagungan islam serta merupakan salah satu rukun islam yang kelima dimana agama ini didirikan diatasnya.
Puasa merupakan salah satu kewajiban dari berbagai kewajiban yang telah ditetapkan kedudukan hukumnya secara mutawatir yang harus diyakini keabsahannya dan harus diketahui oleh seluruh orang islam bahwa itu merupakan perintah agama yang bersifat prinsipil.

Macam-Macam Puasa dalam Agama Islam
Puasa ditinjau dari segi bukannya terdiri dari puasa fardhu dan puasa sunat (tathawwu). Dengan ungkapan lain puasa itu terdiri dari puasa wajib, puasa sunat (mustahab), puasa yang di haramkan dan puasa yang dimakruhkan.
Puasa wajib atau puasa fardhu terdiri dari :
Puasa Fardhu Ain, yaitu Puasa wajib yang harus dilaksanakan untuk memenuhi panggilan Allah Taala dengan memperhatikan segi waktunya, disebut juga dengan Puasa Ramadhan
Puasa wajib yang telah terjadi oleh karena sesuatu hal, sebagai hak Allah Taala, yitu puasa Kafarat ( tebusan) seperti : Puasa Kaffaratul-Yamin, Puasa Kaffaratudh – Dhihar, Puasa Kaffaratul – Qath.
Puasa wajib untuk memenuhi panggilan pribadi atas dirinya sendiri, yaitu puasa nazar.
Puasa Sunat yang disyariatkan oleh Islam :
Puasa enam hari bulan Syawal
Puasa hari kesembilan Dzulhijjah ( Hari Arafah)
Puasa hari Tasua dan Asyura
Puasa bulan Sya’ban
Puasa dibulan-bulan haram
Puasa tiga hari setiap bulan
Puasa senin kamis

D. Sebab-sebab Orang Menjalankan Puasa
Disamping ada orang yang mewajibkan untuk menjalankan puasa, ada pula orang yang diperbolehkan meninggalkan puasa dengan sebab-sebab tertentu. Dan mungkin puasa bisa dikerjakan apabila orang tersebut telah memenuhi syarat-syarat tertentu, antara lain :
Islam
Baliq ( sampai umur), tidak diwajibkan bagi anak-anaknya.
Aqil ( berakal) tidak diwajibkan atas orang gila
Kuasa mengerjakannya
Dalam keadaan suci ( tidak sedang haid nifas) bagi setiap perempuan.
Sebab –sebab orang menjalankan puasa adalah salah satunya niat. Niat merupakan keharusan dalam berpuasa dan setiap ibadah fardhu lainnya, dan bukanlah fokus perhatian kita, apakah niat itu merupakan rukun sebagaimana menurut pendapat segolongan ulama fiqih, atau merupakan syarat, menurut pendapat segolongan yang lain. Karena hal itu hanya merupakan ikhtilaf ilmiah atai teoritis saja yang mempengaruhi amal selama seluruh ulama bersepakat atas kefarduannya.
Adapun yang dimaksud dengan niat disini adalah bahwa seseorangmelakukan ibadah itu semata-mata karena mentaati perintah Allah dan mendekatkan diri kepada Nya, sedangkan Allah tidak akan menerima suatu ibadah bila tidak disertai niat.
Firman Allah SWT :
!$tBur (#ÿrâÉDé& žwÎ) (#r߉ç6÷èu‹Ï9 ©!$# tûüÅÁÎ=øƒèC ã&s! tûïÏe$!$# uä!$xÿuZãm (#qßJ‹É)ãƒur no4qn=¢Á9$# (#qè?÷sãƒur no4qx.¨“9$# 4 y7Ï9ºsŒur ß`ƒÏŠ ÏpyJÍhŠs)ø9$# ÇÎÈ
Artinya : Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan perintah) agama dengan lurus. (Qs.Al-bayyinah : 5)

Dengan demikian niat bukanlah hal yang sulit bagi orang islam yang sudah terbiasa melaksanakan puasa. Secara alami ia sudah mempunyai niat dan tekat untuk melaksanakannya.
Hal yang perlu diketahui disini adalah pembatasan waktu mengenai permulaan wajib niat puasa. Mayoritas ulama fiqih berpendapat bahwa niat itu wajib dilakukan pada waktu malam atau sepertiga malam sebelum terbit fajar. Mereka mengambil dalil hadits marfu sahabat Ibnu Umar dan Siti hafsah.yang artinya : Barang siapa yang tidak niat puasa sebelum terbit fajar maka ia tidak dapat dikatakan berpuasa.

E. Tujuan dan Hikmah Puasa
Islam tidak mensyariatkan sesuatu kecuali ada hikmahnya yang bisa diketahui oleh orang yang mau mempelajari dan tidak akan terungkap oleh orang yang mau mempelajarinyadan tidak akan terungkap oleh orang bodoh dan melalaikannya. Sebagaimana segala apa yang diciptakan Allah itu ada hikmahnya, begitu pula semua hukum yang disyariatkan-Nya juga penuh dengan hikmah.
Hikmah yang terkandung dalam ketaatan seseorang pada akhirnya kembali kepada maslahat pribadi yang bersangkutan itu sendiri. Di dalam puasa terkandung banyak hikmah dan maslahat, sebagaimana diisyaratkan oleh nas-nas (teks) syar’I itu sendiri antara lain :
Sebagai Sarana Pencucian Jiwa
Puasa adalah merupakan manifestasi ketaatan seseorang dalam melaksanakan perintah Allah, dalam meninggalkan larangan-larangan dalam melatih jiwa untuk menyempurnakan ibadah kepada-Nya.
Puasa disamping sebagai sarana untuk memelihara asfek kesehatan jasmani, seperti dinyatakan oleh para dokter spesial, juga merupakan sarana untuk mempertinggi asfek spritual dan meredam gejolak asfek material yang terdapat pada seseorang.
Puasa itu sebagai sarana untuk memperkuat keinginan, memperkokoh tekad, melatih diri agar sabar dan dan bersikap kritis terhadap tradisi.
Sebagaimana telah disepakati bersama pada naluri seks pada manusia merupakan senjata setan yang paling ampuh dalam usaha menyelewengkan manusia.
Dari sebagian hikmah puasa adalah sebagai pernyataan terima kasih seorang yang berpuasa atas nikmat yang dilimpahkan Allah Taala kepada – Nya.
Puasa mengandung hikmah kolektif (terutama dalam puasa) dimana setiap orang yang menjalankan ibadah puasa kaya miskin sama merasakan derita lapar.
Dari semua uraian hikmah puasa diatas dapat disimpulkan sebagai berikut : puasa adalah sarana untuk mempersiapkan dan mengantarkan manusia pada derajat taqwa agar posisinya meningkat dan berjejer dengan orang yang bertaqwa.
Yang jelas bahwa puasa itu merupakan wahana istemewa yang selalu dibuka setiap tahun bagi pendidikan amaliyah dengan sebaik-baik sarana dan prasarana. Keuntungan besar besar manalagi selain mendapat ampun dan pembebasan dari siksa api neraka?
Jadi tujuan dan hikmah puasa bagi seseorang menjadikan taqwa sebagai kapa, membuahkan iman yang muatannya dan mengembangkan taurakal sebagai layar dalam mengarungi samudra kehidupannya.
BAB IV
P E N U T U P

C. Kesimpulan
1. Menahan dan mengekang keinginan diri dari makan dan minum , sampai terbenamnya matahari dengan motif mematuhi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT disebut dengan puasa. Puasa bertujuan mendidik jiwa yang istiqomah dan menghidupkan ruhul jihad pada umat islam yang menjalankan ibadah puasa.
2. Mendidik jiwa-jiwa yang istiqomah dengan jalan berpuasa itu merupakan salah satu dari amar ma’ruf nahi munkar yang disampaikan para ulama dan pendakwah atau orang yang mengerti agama agar disampaikan kepada orang-orang yang belum tau dan mengerti tentang hukum –hukum agama.
3. Puasa yang baik adalah puasa yang disertai dengan niat karena selain tujuan untuk mendidik jiwa yang istiqomah itu bisa tercapai, juga kita mendapatkan ketenagan jiwa. Karena kita berpuasa semata-mata oleh Allah SWT.

D. Saran-Saran
1. Setiap menjalankan puasa hendaknya dalam jiwa seseorang tertanam sifat istiqomah dan mempunyai semangat jihad dalam mempertahankan agama islam.
2. Setiap informasi yang diterima tentang puasa hendaknya diberi tahukan kepada sesama umat muslim lainnya.
3. Setiap orang tua hendaknya mengajarkan anaknya untuk menjalankan puasa sedari umur anak itu dianggap cukup, sehingga di dalam jiwa anak tertanam sifat istiqomah.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Moh, 1995. Qur’an Hadits. Departemen Agama RI, Demokrat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Islam,

Abdul Aziz. Drs.H.MR. dkk. 2001. Qur’an Hadits Untuk Madrasah Aliyah. CV. Wicaksana, Semarang.

Departemen Agama RI. 1999. Qur’an Hadits. Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam. Jakarta

Departemen Agama RI. 2002. Qur’an Hadits Untuk Madrasah Tsanawiyah. Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam. Jakarta

Departemen Agama RI. 2002. Fiqih Untuk Madrasah Tsanawiyah. Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam. Jakarta

Rifa’I, Moh, 1997. Istiqomah. Bintang Usaha Jayam. Semarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: