HIKMAH PUASA DALAM MEMBENTUK KEPRIBADIAN ANAK

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan dengan memperhatikan beberapa syarat, antara lain yaitu :
Beragama Islam
Berakal sehat
Baligh yakni dewasa/sampai umur
Suci dari darah haid dan nifas
Mampu/kuasa untuk melakukan puasa menurut ukuran fisik dan syara’
Diwajibkan ber puasa bagi orang-orang Muslim, memiliki manfaat baik untuk hubungan antar sesama manusia maupun kepada sang khalik.
Sebagaimana Hadits di bawah ini yang artinya :
“Betapa banyak orang ber puasa namun mereka tidak mendapatkan sesuatu dari puasa nya, kecuali lapar dan dahaga saja. “ (Hadits Syarief)

B. Permasalahan
Karya tulis ini berisikan uraian yang berjudul : “HIKMAH PUASA DALAM MEMBENTUK KEPRIBADIAN ANAK” berkenaan dengan judul tersebut penulis akan menguraikan tiga permasalahan sebagai berikut :
Ruang lingkup tentang puasa antara lain :siapa saja yang diwajibkan ber puasa dan bagaimana cara mengerjakannya.
Bagaimana cara melatih anak-anak untuk mengerjakan puasa
Apa hikmah yang dapat kita ambil dalam ber puasa

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dalam pembuatan karya tulis ini adalah sebagai berikut :
Ingin menambah serta memperdalam pengetahuan tentang puasa
Ingin mengemukakan pendapat/pengetahuan, tentang betapa pentingnya ber puasa bagi umat manusia yang beriman
Ingin mencoba menguraikan/menjelaskan beberapa masalah yang berhubungan dengan puasa
Kelengkapan persyaratan untuk mengakhiri perkuliahan program penyetaraan D II PGMI Kabupaten Kapuas.

D. Teknik Penulisan
Dalam pembuatan karya tulis yang berjudul : “HIKMAH PUASA DALAM MEMBENTUK KEPRIBADIAN ANAK “ ini, penulis tidak menggunakan teknik interview atau wawancara, akan tetapi menggunakan teknik penelitian kepustakaan (library research) yaitu dengan mengumpulkan bahan-bahan dari berbagai buku-buku, majalah-majalah, surat kabar dan lain-lain yang ada hubungannya dengan judul karya tulis ini.
BAB II
TINJAUAN TENTANG PUASA DALAM ISLAM

Pengertian Puasa
Kata puasa dalam bahasa Arab disebut “shaum atau shiam”, menurut arti bahasa ialah “menahan diri atau meninggalkan sesuatu perbuatan yang membatalkan”. Sedangkan menurut istilah adalah “menahan diri dari makanan dan minuman serta menahan diri dari perbuatan seksual dengan wanita atau istri mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
Dalam al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 187 telah disebutkan :
4 (#qè=ä.ur (#qç/uŽõ°$#ur 4Ó®Lym tû¨üt7oKtƒ ãNä3s9 äÝø‹sƒø:$# âÙu‹ö/F{$# z`ÏB ÅÝø‹sƒø:$# ϊuqó™F{$# z`ÏB ̍ôfxÿø9$# ( ¢OèO (#q‘JÏ?r& tP$u‹Å_Á9$# ’n<Î) È@øŠ©9$#
Artinya :
“Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam” (Al-Baqarah : 187)
Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa puasa itu pada pokoknya menahan diri dari tiga hal yaitu :
Makan
Minum
Seksual pada waktu-waktu tertentu

Sejarah Diwajibkannya Puasa
Puasa bermula dalam Islam ialah pada tahun 11 Hijriah sebulan Ramadhan penuh, 29 atau 30 hari. Ibadah puasa memiliki beberapa rukun dan syarat. Diantaranya berniat di malam hari, lalu mematangkan segala kegiatan makan, minum dan syahwat yang membatalkan. Waktunya sejak fajar hingga matahari tenggelam. Untuk orang tua dan lemah, sakit, wanita hamil atau yang tengah menyusui bayi, kepadanya diberikan kelonggaran dengan membayar fidyah (denda) atau mengqadhanya di belakang hari.
Sedangkan dalil yang memperkuat diwajibkan nya puasa ialah :
$yg•ƒr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä |=ÏGä. ãNà6ø‹n=tæ ãP$u‹Å_Á9$# $yJx. |=ÏGä. ’n?t㠚úïÏ%©!$# `ÏB öNà6Î=ö7s% öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs? ÇÊÑÌÈ
Artinya ::
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu ber puasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa“ (Q.S. Al-Baqarah :183)
Pada ayat diatas Allah menjelaskan bahwa puasa itu bukan khusus untuk umat Islam saat ini, tetapi juga diwajibkan kepada umat-umat terdahulu.
Hukum Puasa
Pada dasarnya hukum mengerjakan puasa itu terbagi tiga macam yaitu :
Wajib atau fardhu ‘ain yaitu puasa bulan Ramadhan, puasa kifarat dan puasa nazar
Sunat, yaitu puasa pada hari Senin dan Kamis, puasa pada tanggal 13, 14, 15 bulan Qamariah, puasa hari Asyura (tanggal 10 Muharram), puasa enam hari di bulan Syawal, dan puasa hari arafah (9 Dzulhijjah) terkecuali bagi orang yang mengerjakan ibadah haji
Haram, yaitu puasa hari raya fitrah (tanggal 1 Syawal), hari raya Idul Adha (tanggal 10 Dzulhijjah) dan Hari Tasyrik (tanggal, 11, 12,

Syarat-Syarat Syah Puasa
Adapun syarat syah puasa adalah :
Beragama Islam
Berakal sehat, artinya tidak dalam gila dan mabuk, karena orang yang dalam keadaan demikian tidak syah puasa nya, dan wajib mengqadanya.
Baliqh, yakni dewasa/sampai umur
Suci dari darah haid dan nifas, karena orang yang dalam keadaan seperti itu juga tidak syah puasa nya dan wajib mengqadanya (membayar fidyah)
Mampu/kuasa untuk melakukan puasa menurut ukuran fisik dan syara

Rukun Puasa
Rukun puasa yang harus dipenuhi ada dua macam, yaitu :
Niat
Bagi orang yang ingin ber puasa wajib atasnya berniat dalam hati, dan sunat melafalkan dengan lidah pada setiap malam puasa Ramadhan / puasa sunat, sampai belum terbit fajar shodik.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

('smolA"AWR)p^l-M-A-yu_-;-f_R@j-f@lA-L@b-q-MA-y#_ulAv-m@e^y@M-l@N-m
Artinya :
“Barang siapa yang tidak berniat semenjak waktu malam sebelum terbit fajar, maka tidaklah puasa itu baginya”.
Menahan diri dari yang membatalkan puasa, mulai terbit fajar sampai terbenam matahari

Yang Membatalkan Puasa
Ada beberapa hal yang membatalkan puasa, diantaranya :
Makan/minum dengan sengaja, tetapi kalau tidak disengaja maka puasa nya itu tidak batal, sekalipun yang termakan/terminum itu sangat banyak. Karena dalam Hadits Sahih diterangkan Rasulullah SAW, sebagai berikut:

^HA-q-s-W^p!llA^p-m-d@P-AA-m#-n)_A-f^p-m@W-u#-M_t^y@l-f -B_R-i@W-A -L-K-A-f%M_xA-u-W^h-W -Y_s-n @N-m
(]RAoblA"AWR)-"-RA#-f-K-:-W_p@y-l-x-*A-[-q-:-W^HA-q-s-W
Artinya :
“Barang siapa lupa di kala berpuasa, maka ia makan/minum, hendaklah diteruskan puasa nya itu, dan Allah menganugerahkan kepadanya makanan dan minuman, dan tidak ada kafarat maupun qadha baginya”. (H.R. Bukhari dan Abu Hurairah)
Muntah dengan sengaja, kalau kita ketahui hukumnya muntah yang disengaja itu haram, sekalipun yakin keluar dari sendiri tidak kembali lagi keperutnya, maka keadaan puasanya itu batal, sedangkan muntah dalam keadaan yang tidak sengaja atau ada uzur, maka puasanya itu tidak batal.
Hal ini dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sabda beliau yaitu :
_{@q-y@l-f-*A-q-t@sA_N-m-W-*A-[-q-S@y-l-f^(]@y-q@lA^p-x-R-V@N-m
Artinya :
“Barang siapa yang terpaksa muntah tidaklah qadha baginya, dan barang siapa yang sengaja muntah, maka hendaklah ia mengqadha puasanya”.
Bersetubuh, yakni dengan memasukkan alat kelamin kedalam kelamin perempuan (Vagina), sekalipun tidak sampai keluar air mani (Sperma), maka puasanya itu batal
Keluar darah haid atau nifas
Hilang akal, gila atau mabuk
Keluar air mani/sperma yang disengaja
Berkata dusta
Mengumpat atau mencela orang lain
Bersumpah palsu
Murtad

Dibolehkannya Tidak Puasa
Diantara orang-orang yang dibolehkan tidak puasa adalah :
Keadaan sakit
Dalam perjalanan/musyafir
Keadaan hamil (mengandung)
Menyusui
seorang yang terlalu tua
Sebagaimana firman Allah yang berbunyi :
……. 4 ’n?tãur šúïÏ%©!$# ¼çmtRqà)‹ÏÜム×ptƒô‰Ïù ãP$yèsÛ &ûüÅ3ó¡ÏB ( …..
Artinya :
Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. (Q.S.Al-Baqarah : 184)
BAB III
PELATIHAN PUASA BAGI ANAK-ANAK DAN HIKMAHNYA

Puasa adalah termasuk rukun Islam yang ketiga yakni puasa di bulan Ramadhan. Puasa di bulan Ramadhan merupakan salah satu ajaran islam yang diwajibkan dikerjakan oleh Islam. Bagi orang tua peranannya dalam wajib menyuruh anaknya yang telah berumur tujuh tahun mengerjakan puasa dan wajib memukulnya jika ia tidak mengerjakan sesudah berumur sepuluh tahun.
Pada usia anak-anak kira-kira enam dan dua belas tahun, pada usia ini anak berusaha mencapai kemenangan dan keunggulan terhadap kawan-kawannya. Orang tuanya dianggap kurang penting di bandingkan dengan saudaranya atau teman-temannya. Kemarahan dan kecemburuan berkurang tetapi ia mulai dapat melakukan kritik dan kecaman.
Kemudian ia mampu melakukan kegiatan yang bermacam-macam, mampu mengendalikan diri dan berdisiplin menurut peraturan, gurunya dianggap lebih penting dari orang tuanya. Oleh sebab itu alangkah baiknya jika orang tuanya langsung merangkap menjadi guru atau orang tuanya dapat bekerja sama dengan gurunya.
A. Hikmah Puasa
Ada beberapa hikmah puasa, diantaranya yaitu :
1. Menciptakan suasana yang mendorong tubuh dan berkembangnya rasa tanggung jawab dan rasa ke setia kawanan sosial, pada diri orang yang puasa tentulah akan menimbulkan rasa belas kasihan terhadap fakir miskin, karena ia merasakan bagaimana orang yang haus dan lapar.
2. Menanamkan sifat sabar, karena orang yang berpuasa itu secara tidak langsung Manahan diri lari lapar, dahaga dan semua keinginan yang membatalkan puasanya dengan sabar.
3. Mendidik sifat jujur dan amanah, karena dengan berpuasa seseorang terlatih dirinya untuk bisa dipercaya, sebab walau bagaimanapun lapar, haus dan dahaga sekalipun ia tidak ada yang melihat, ia tidak terpengaruh dengan kenikmatan makanan dan minuman. Dengan demikian terbentuklah sifat jujur.
4. Puasa juga bisa mencerminkan rasa syukur kita kepada Allah SWT, atas segala nikmat yang telah diberikannya kepada kita guna memenuhi kebutuhan sehari-hari yang tentu tak berbelas banyaknya, dan tidak terhitung nilainya.

ç 4 bÎ)ur (#r‘‰ãès? |MyJ÷èÏR «!$# Ÿw !$ydqÝÁøtéB ÇÌÍÈ
Artinya:
“…dan jika kamu menghitung nikmat (pemberian) Allah kepadamu, niscaya kamu tidak sanggup untuk menghitungnya …”(Q.S Ibrahim :34)

5. Memelihara kesehatan dan menyembuhkan berbagai penyakit
6. Membersihkan pribadi seseorang dari perbuatan tercela misalnya bohong
7. Dalam meningkatkan ketaqwaan misalnya dapat meningkatkan dalam beribadah
8. Menumbuhkan sifat solidaritas pada sesama misalnya menyantuni fakir miskin, anak yatim

B. Penanggung Jawab Pelatihan Puasa
Setiap orang adalah penanggung jawab, setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Kepala negara bertanggung jawab atas rakyatnya, seorang suami bertanggung jawab atas anak dan istri nya, demikian juga istri bertanggung jawab didalam rumah tangga suaminya.
Sabda nabi Muhammad SAW yaitu :

ptyxRNxLWdsmWhW XARMAe:AfptyxRNxLWdsmMKlKWXARMKlK
Tyb Yf 'yxAR "RmlA Wptyx Nx LWdsm WhWplhA]f XAR LjRlAW
ptyxRNx'l Wdsm YhWAwjWR
Artinya :
“Setiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpin nya. Kepala negara adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya, seorang laki-laki adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas keluarganya, dan seorang perempuan adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rumah tangganya (suaminya)”

Hubungannya dengan pelatihan puasa, maka yang paling besar tanggung jawabnya terhadap anak-anaknya adalah dari orang tua (ayah dan ibu) sebagai orang yang paling bertanggung jawab/pemimpin dalam lingkungan keluarganya. Lingkungan keluarga adalah merupakan lingkungan pendidikan non formal, dimana pada lingkungan inilah anak pertama sekali kenal dengan agama, oleh karena itulah sebagai orang tua yang sadar akan tanggung jawabnya, maka ia akan berusaha akan memberikan pengetahuan untuk bekal nantinya bila ia dewasa.

C. Cara Melatih Puasa Bagi Anak-Anak
Sebagaimana telah di ketahui bahwa orang tua lah yang berkewajiban melatih puasa bagi anak-anaknya, akan tetapi mengingat beberapa kemungkinan orang tua tidak dapat melaksanakan fungsinya dan tugasnya itu, sehingga di alihkan kepada orang lain untuk melaksanakannya, misalnya orang tuanya meninggal dunia, hilang, menjadi nara pidana, sakit dan tidak ada kemungkinan untuk sembuh, menjadi gila, tidak cakap, tidak memiliki kemampuan dan sebagainya.
Melihat kenyataan tersebut di atas sudah tentu orang lain yang akan melaksanakannya, atas fungsi dan tugas dari orang tua tersebut, yakni keluarga, kaum kerabat, orang tua angkat, masyarakat dan pemerintah.
Adapun untuk melatih berpuasa bagi anak-anak, ada beberapa cara, yakni:
Memberi suri tauladan dengan mengerjakan puasa
Menggoyah semangat nya agar mengerjakan puasa
Memberi hadiah atau kegemarannya yang lain apabila ia berhasil meningkatkan kemampuannya mengerjakan puasa
Mengawasi nya dan membimbing nya bagaimana berpuasa yang baik, memberi pengetahuan kepadanya akan hukum puasa, hikmah nya, rukun nya, syarat nya, amalan apa yang dianjurkan bagi orang yang berpuasa, perbuatan yang harus dihindari dan sebagainya
Sebagaimana ibadah sembahyang, apabila ia telah berusia sepuluh tahun dan belum juga ia mau melaksanakan puasa maka suruhlah ia dengan yakni dan apabila ia tidak mau melaksanakan maka pukullah ia
sebagaimana sabda nabi Muhammad SAW, yakni :
MhW AhyxMhWbR[AW NynSvbs*AnbA MhW";ulAb MKDWAAWRm

(]VmRtlA"AWR) NynsRix*AnbA

Artinya :
“Perintahlah anakmu mengerjakan sembahyang apabila ia telah berusia tujuh tahun dan apabila ia telah berumur sepuluh tahun belum ia mengerjakannya maka pukullah dia.” (H.R.Turmudzi)

Dari Hadits tersebut jelaslah, bahwa bagi seorang wali/orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mendidik, melatih, membimbing dan mengawasi anaknya mengerjakan puasa fardhu itu, karena itulah berat sekali tanggung jawab bagi orang tua dalam mendidik anak-anaknya, sebab anak itu adalah amanah dari Allah SWT yang harus di jaga, sebab nantinya akan dimintai pertanggung jawabannya di hari Kiamat nanti.

BAB IV
P E N U T U P

A. Kesimpulan
Dari uraian yang telah penulis paparkan di atas maka dapatlah disimpulkan sebagai berikut :
Puasa merupakan ajaran Islam dan termasuk rukun Islam yang ketiga, hukum puasa itu ada tiga macam yaitu fardhu ain, sunat dan haram. Puasa juga memiliki syarat syah nya puasa rukun puasa, dan yang membatalkan puasa, puasa di bulan Ramadhan hukumnya fardhu ain/wajib yaitu diwajibkan bagi setiap umat Muslim untuk mengerjakan puasa kecuali ada sebab lain yang membolehkan ia meninggalkan puasa.
Peranan dan fungsi orang tua adalah bertanggung jawab atas pendidikan anaknya antara lain adalah menyuruh anaknya mengerjakan puasa, apabila ia sudah berusia tujuh tahun dan memukulnya apabila telah berusia sepuluh tahun (sama dengan perintah shalat)
Melatih berpuasa bagi anak-anak berarti mendidik, membimbing dan mengawasi untuk membiasakan mengerjakan puasa khususnya puasa di bulan Ramadhan. Pelatihan puasa ini menjadi tugas dan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah.
Dengan terbiasa nya melakukan ibadah puasa pada saat anak-anak maka akan menumbuhkan kebiasaan dan disiplin yang tinggi sebagai bekal hidupnya nanti

Saran-saran
Sesuai dengan uraian dan pembahasan diatas pada bab-bab terdahulu serta kesimpulan diatas, maka penulis mengajukan saran-saran sebagai berikut yaitu :
Supaya puasa yang kiat laksanakan bernilai pahala dan mendapat keridhaan Allah SWT, maka hendaklah kita memperhatikan lebih dahulu syarat-syarat nya, rukun-rukun nya, dan hal-hal yang membatalkan puasa. Di samping itu pula kita hendaknya tingkatkan amal-amal yang baik, seperti tadarus Al-Qur’an, ber sedekah dan lain-lain
Hendaklah orang tua menyadari akan fungsi dan peranannya sebagai guru bagi anak-anak dalam lingkungan keluarga, sebab pertama kalinya anak mengenal agama lewat lingkungan keluarga
Setiap datangnya bulan Ramadhan hendaknya diadakan kegiatan keagamaan, hal ini dalam rangka menumbuhkan syiar Islam, dan mengagungkan bulan Ramadhan yang terbaik dari seribu bulan
Sebagai sarana untuk membentuk kepribadian anak menjadi seorang Muslim setelah lingkungan keluarga, hendaklah anak-anak di masukkan ke lembaga pendidikan formal yakni pesantren dan pada Madrasah Ibtidaiyah, sebab disana lah di ajarkan permasalahan-permasalahan agama Islam yang lebih dalam/lebih banyak
Tambah lah ilmu-ilmu pengetahuan agama lebih-lebih lagi pada bulan Ramadhan.

DAFTAR PUSTAKA

Drs. H. Abujamin Roham, Puasa Perisai Hidup, Penerbit Media Da’wah, Jakarta

K. Basyith Basyirun, Hikmah Puasa dan Hikmah Shalat, Pn Bintang Terang, Surabaya.

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya Tahun 1979/1980

Drs. Masdugi dkk, Fiqih, Untuk Madrasah Tsanawiyah jilid I, Pn. Sahabat Ilmu, 1984

H. Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam, Cetakan Ketujuh Belas, Pn. An-Tahiriyah, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: