PERILAKU SEKSUALITAS REMAJA DAN DAMPAKNYA PADA KEHIDUPAN SEHARI-HARI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dewasa ini sebagian masyarakat masih menganggap bahwa hubungan seks itu tabu untuk dibicarakan. Kebanyakan orang tua beranggapan seks itu tidak perlu untuk dibicarakan kepada anak-anaknya mereka yakin bahwa kelak anak-anaknya pasti tahu dan bisa sendiri melakukan hubungan seks, kurang memikirkan perilaku seksualitas dan dampaknya pada anak-anaknya yang menjelang remaja khususnya.

B. Rumusan Masalah
1. Kebanyakan setelah melalui masa pubertas pemuda dan pemuda mulai saling tertarik dan bergaul secara lebih dekat dengan tidak lagi merasa malu-malu kucing. Mereka mulai bertemu, saling kenal kemudian langsung jatuh cinta, dan buru-buru menyampaikan hasrat untuk ingin selalu berdua.
2. Anak muda sering tergesa-gesa mengikat diri pada seseorang sebagai pacar tanpa mau belajar bergaul secara luas dengan sebanyak mungkin teman.
3. Banyak anak muda yang tidak mau untuk membuka mata dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar/rumahnya untuk berjumpa dengan orang lain-lain yang belum dikenalnya serta bergaul dan berteman dengan mereka. Justru dia mengurung diri, tertutup, malu-malu, takut-takut dan minder untuk bergaul dengan orang lain, selalu menutupi dirinya dengan tempurung atau kacamata kuda supaya merasa aman
4. Orang muda Indonesia biasanya malu-malu untuk saling berkenalan dengan menyebutkan namanya secara jelas
5. Pergaulan bebas tanpa saling menghormati, kurang sopan santunnya dalam berpakaian, jual murah seperti barang dagangan yang diobralkan di pasar, yang dipegang dan di cium orang banyak kemudian dibuang lagi “Yang Jual Murah, Mutunya Rendah” kata para ahli ekonomi.
6. Bertindak sembrono dalam memiliki pasangan hidup hasil jatuh cinta dengan lawan jenis, tanpa mencoba menggunakan rasio atau pikiran untuk melihat kenyataan yang sebenarnya. Timbullah penyesalan dan perceraian.
7. Kurang waspada dalam menyikapi gejolak hawa nafsu seksual saat bermesraan, berciuman pipi meningkat menjadi ciuman bibir, leher, dada dan berpelukan menjadi buka-bukaan dan raba-rabaan daerah terlarang, tak heran bahwa artinya mereka “kebablasan” sampai pada hubungan kelamin dab tak jarang terjadi hamil diluar nikah

C. Tujuan Penulisan
Setelah pemaparan makalah ini kita khususnya mahasiswa yang masih muda dalam artian belum pernah kawin atau menikah bisa :
1. Memahami perbedaan pria dan wanita
2. Memahami tahap-tahap perkembangan seksual pria dan wanita
3. Memahami fase pubertas (masa pancaroba)
4. Menuju kedewasaan pribadi
5. Memahami tahap-tahap pergaulan pria dan wanita
6. Memahami tahap-tahap pergaulan
a) Tahap teman biasa
b) Tahap jatuh cinta
c) Tahap pacaran
d) Tahap pacaran atau pacar yang tetap
e) Tahap tunangan
f) Tahap perkawinan
7. Hakekat perkawinan
8. Tujuan perkawinan
9. Ciri-ciri perkawinan
10. Halangan perkawinan
11. Perkawinan impian yang mustahil ???

BAB II
PEMBAHASAN

A. Perbedaan Pria dan Wanita
Bicara tentang perbedaan pria dan wanita, masyarakat biasanya berpikir tentang “seks”. Dalam pembicaraan ini kita bicara tentang “seksualitas” manusia
Istilah seks (atau seksual) biasanya diartikan alat kelamin dan fungsinya berkaitan dengan hubungan kelamin, yang secara biologis dimaksudkan untuk mendapatkan keturunan (reproduksi atau pro-kreasi) sedang seksualitas menunjuk pada keseluruhan ciri-ciri yang membedakan manusia sebagai pria atau wanita (gender). Jadi seks hanya merupakan sebagian (jadi tidak lengkap) maka apa saja yang berkaitan dengan seks seringkali menimbulkan pandangan yang salah, berat sebelah, porno, dan sebagainya.
Perbedaan fisiologis/biologis
Pria Wanita
1. Pada tubuh pria menonjol garis-garis lurus, tegak, kuat dan kekar yang melambangkan keperkasaan dan kekuatan.
2. Dada lapang, bahu leher untuk bekerja dan untuk melindungi yang lemah

3. Lengan dan tangan penuh otot, kekar, kuat dan keras
4. Suara besar ada jakun pada leher
5. Alat kelamin sebagian terletak diluar rongga tubuh 1. Tubuh wanita lebih menonjol, garis-garis melingkar, bulat, lambang kelembutan, kasih sayang dan perasaan aman
2. Bahu. Relatif kecil dan melengkung: buah dada berkembang dan mengembung
3. Lengan dan tangan lembut dan lemas
4. Suara kecil merdu, leher rata
5. Alat kelamin tersembunyi di dalam rongga tubuh

B. Tahap-tahap Perkembangan Seksual Pria dan Wanita
1. Tahap Kanak-Kanak Sampai Awal Pubertas
Pada fase ini kanak-kana hampir tidak ada perbedaan dalam perkembangan, artinya masing-masing jenis belum mempunyai pengertian dan rasa tertarik atau nafsu seksual terhadap jenis lain
a. Pada anak laki-laki
– Perhatian lebih terarah “ke luar”
– Cara bermain menunjukkan unsur kekuatan, kasar dan agresif., bahkan merusak
– Identifikasi diri ke arah jenis dan kelompok pria
b. Pada Anak Perempuan
– Perhatian lebih ke arah “ke dalam”
– Cara bermain dan perhatiannya telah menunjukkan unsur lembut, halus dan menyayang
– Identifikasi diri cenderung ke arah jenis dan kelompok wanita

C. Fase Pubertas (Masa Pancaroba)
Tahap ini dimulai dengan mulainya gejala pertumbuhan fisik disertai ketidakmantapan perasaan : mulai suka melamun, malas, menyendiri, malu bergumul dengan dirinya sendiri untuk menemukan harkat dirinya sendiri untuk menemukan harkat dirinya sebagai laki-laki atau perempuan baru lama-kelamaan muncul juga hasrat untuk bergumul dengan lawan jenis.
Menjelang mulainya Haid/Menstruasi anak perempuan perlu diberi penjelasan dan bimbingan agar dapat menerima dirinya dengan wajar termasuk proses-proses yang terjadi di dalam tubuhnya sendiri, haid pertama yang kurang mendapat bimbingan dan penjelasan akan menjadi beban berat baginya.
Bagi anak-anak laki-laki bimbingan dan pengarahan juga benar-benar diperlukan, pengalaman seksual anak laki-laki biasanya cenderung ke arah menyenangkan dan menggairahkan karena cara hidupnya lebih terarah “ke luar” biasanya anak laki-laki lebih banyak mendengar dan melihat diluar. Apabila informasi yang diperolehnya tidak benar, tidak lengkap dan bahkan menyesatkan tentunya sanga berbahaya bagi perkembangan pribadinya.

D. Menuju Kedewasaan Pribadi
1. Pada Laki-Laki
Bagi seorang laki-laki dorongan seksual umumnya kuat. Seks didalamnya sebagai sesuatu yang menyenangkan dan menarik. Gelombang kehidupan seksual laki-laki relative tetap artinya pada waktu ke waktu selama 1 bulan ± tetap gelombang pasang nafsu seksual umumnya dipengaruhi dua hal :
a. Kondisi badan secara keseluruhan : dalam kondisi yang baik umumnya nafsu juga tinggi
b. Kelelahan dan kekosongan hidup : nafsu seksual adalah salah satu dari nafsu-nafsu yang terdapat dalam diri manusia umumnya dorongan dari berbagai nafsu atau keinginan yang lain berkurang, nafsu seksual malah lebih menonjol
2. Pada Wanita
Irama kehidupan pada umumnya maupun irama kehidupan seksual sangat nyata bergelombang sepanjang perjalanan proses haid. Menjelang haid dan pada waktu haid kaum wanita umumnya mengalami gelombang surut dari keseluruhan gairah kehidupannya. Merasa tak enak badan, pikiran kacau, konsentrasi sukar, rasa serba salah dan sebagainya. Pada pertengahan siklus gelombang kehidupan wanita biasanya meningkat, juga keinginan nafsu seksualnya.

E. Tahap-Tahap Pergaulan Pria dan Wanita
Perbedaan ciri-ciri pria dan wanita tidaklah membuat mereka saling bermusuhan atau bersaing, melainkan justru saling membutuhkan dan saling melengkapai. Justru karena berbeda, keduanya merasa saling tertarik. Memang sewajarnya pria tertarik pada wanita dan wanita tertarik pada pria.

F. Tahap-Tahap Pergaulan
Proses pergaulan muda-mudi dapat dibagi dalam beberapa tahap: teman biasa – jatuh cinta – pacaran – pasangan – tunangan –nikah. Dari sekian banyak masalah yang dihadapi oleh orang muda dalam hal pergaulan hanya beberapa sempat dibahas dalam bab ini.

1. Tahap Teman Biasa
Setelah melalui masa pubertas, pemuda dan pemuda mulai saling tertarik dan bergaul secara lebih dekat, dengan tidak lagi merasa ragu dan malu-malu kucing
– Tidak tergesa-gesa mengikat diri pada seseorang sebaiknya orang muda belajar bergaul secara luas dengan sebanyak mungkin teman dan tidak cepat-cepat menyatakan “cinta” atau mengikat diri dengan seseorang sebagai pacar. Maka sebaiknya mencari saluran untuk dapat bertemu dan bergaul dengan banyak orang: makin luas makin baik. Misalnya dengan ikut aktif dalam berbagai kegiatan organisasi pemuda/mahasiswa ikut kegiatan olahraga, kegiatan kampus, kegiatan kampung. lingkungan, karang taruna, dan sebagainya. Perluas dulu wawasan pergaulan agar kenal dengan banyak orang dan tahu sifat-sifat dan ciri-cirinya kawan jenis. Biasanya dari itu orang menemukan teman yang tepat untuk dijadikan pasangan hidupnya.
– Bersikap terbuka
Orang muda perlu membangun keberanian untuk membuka mata dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar/rumahnya untuk berjumpa dengan orang-orang lain yang belum dikenalnya serta bergaul dan berteman dengan mereka. Juga perlu membuka mata untuk mengetahui hal-hal baru yang dapat memperkaya wawasannya. Misalnya: mengenal bidang-bidang ilmu lain di luar jurusannya, budaya lain, bahasa lain, bahkan juga orang-orang dan ajaran-ajaran dari agama lain.
– Sedia Dikenal dan Sedia Mengenal
Kebiasaan saling berkenalan dan saling memperkenalkan teman-temannya kurang masih perlu dikembangkan. Tidak usah malu-malu berkenalan dengan menyebutkan namanya secara jelas. Bagaimana lingkungan teman yang dikenal bisa bertambah jika kita tidak bersedia mengulurkan tangan untuk berkenalan dan berani bicara juga dengan orang yang belum kita kenal. Bila orang dapat menampilkan diri secara menarik dan simpatik, dapat dipastikan ia akan cepat dikenal orang dan cepat mendapat banyak teman.
– Jaga Harga Diri Dalam Pergaulan
Artinya tidak terlalu bebas. Jugalah jarak dalam pergaulan dengan saling menghormati, juga dalam hal sopan santun dan cara berpakaian. Jangan “Jual Murah” jaga harga diri dan jangan mau disentuh oleh sembarang orang! Yang wajar-wajar saja, juga jangan terlalu mahal. Karena akan dinilai sombong dan tidak akan ada orang berani mendekati.

2. Tahap Jatuh Cinta
Jatuh cinta adalah suatu “pengalaman” yang menimpa seseorang bukan sesuatu yang sengaja dicari atau direncanakan. Bisa terjadi langsung pada pandangan pertama, bisa juga merupakan hasil dari proses yang lama. Bisa sekali jadi untuk seumur hidup, bisa juga dialami berkali-kali. Sering sulit dimengerti mengapa si A jatuh cinta sama si B, yang ditinjau dari banyak segi sama sekali bukan orang yang ideal. Jatuh cinta memang menyanhkut “rasa” yang sering tidak rasional. Tanda-tanda jatuh cinta dapat disebutkan sebagai berikut:
– Sulit berkonsentrasi karena selalu ingat akan si dia.
– Perasaannya melambung tinggi tiap kali manakala dapat memandanginya, bicara dengan dia dan bersama dengan dia. Sebaliknya rindunya setengah mati bila berjauhan dengan dia.
– Dalam benaknya muncul impian yang indah-indah, sehingga sering melamun, serba tidak realistis
– Perhatiannya hanya terpikat pada satu orang, si dia saja. Walau ada orang lain yang lebih cantik/ganteng, ia tak peduli ia pun mudah cemburu jika ada orang lain mendekati atau bahkan berbaik hati atau bermuka ramah dengan kekasihnya.

3. Tahap Pacaran
Pada tahap pacaran, hubungan yang mual sebagai teman biasa menjadi hubungan istimewa atau mengkhusus satu teman satu lawan satu atau disebut “Eksklusif”. Kalau ada pemuda yang mempunyai pacar lebih dari satu itu berarti dia tidak jujur, hanya main-main, atau sebetulnya dia baru dalam proses penjagaan, belum dalam tahap berpacaran dalam arti yang sebenarnya.

4. Tahap Pacangan atau Pacar Yang Tetap
Istilah Pacangan (Jawa) dipakai untuk menunjukkan hubungan pacaran yang sudah mantap. Berarti proses penjajakan pertama telah dilalui dengan selamat dan keduanya sudah merasa cocok. Biasanya pada tahap ini orang tua kedua belah pihak ini orang tua kedua belah pihak juga sudah dilibatkan dan merestui.
Pedoman yang berlaku bagi tahap ini kiranya masih serupa dengan tahap pacaran, meskipun dalam beberapa hal dapat ditingkatkan. Diharapkan dua-duanya saling menjaga agar hubungan mereka tetap “murni” dan tidak melangkah terlalu jauh.

5. Tahap Tunangan
Bila tahap pacaran dirasakan sudah mantap dan sudah mengarah pada pernikahan, hubungan mereka dapat ditingkatkan ke tahap tunangan dengan saling memberikan cincin (ring). Pertunangan merupakan kebiasaan yang baik (tetapi bukan kewajiban) sebagai langkah persiapan perkawinan. Pada tahap ini bukan hanya kedua insan yang bersangkutan saja yang terlibat, tetapi diperluas melibatkan juga keluarga dari kedua belah pihak.

6. Tahap Perkawinan
Setelah semuanya disiapkan, akhirnya dilangsungkan pernikahan. Perlu dibedakan antara upacara pernikahan dan perayaan pesta perkawinan(resepsi). Biasanya (tetapi belum tentu) diadakan pada hari yang sama, yang paling utama adalah upacara pernikahan yang meresmikan hubungan pria dan wanita sebagai suami-isteri yang sah menurut hukum negara dan hukum agama.

G. Hakekat Perkawinan
1. Perkawinan merupakan persekutuan hidup dan cinta. Perkawinan pertama-tama merupakan persekutuan hidup yang menyatukan seseorang pria dan seorang wanita dalam kesatuan lahir-batin yang mencakup seluruh hidup. Atas dasar persetujuan bebas mereka bersekutu membentuk satu keluarga : punya rumah bersama, harta dan uang menjadi milik bersama, punya nama keluarga yang sama, punya anak bersama, saling pasrah diri dengan jiwa raga atas dasar cinta yang tulus

H. Tujuan Perkawinan
Perkawinan dapat dilaksanakan dengan tujuan yang berbeda-beda. Tujuan yang layak di kejar oleh suami isteri ialah
1. Pengembangan dan pemurnian cinta kasih suami isteri
kasih yang telah bersemi antara pria dan wanita masih harus terus dikembangkan dan dimurnikan, sehingga sungguh saling membahagiakan. Cinta bukan semata-mata nafsu, rasa tertarik, rasa simpati atau asrama, melainkan suatu keputusan pribadi untuk bersatu dan rela menyerahkan suatu keputusan pribadi untuk bersatu dan rela menyerahkan diri demi kebahagiaan pasangannya. Suami dan isteri bukan sekedar “bojo’ melainkan “jodoh” dan “garwo” (sigaraning nyawa) serta “teman seperjalanan”
2. Kelahiran dan Pendidikan Anak
Perkawinan adalah satu-satunya lembaga yang sah untuk pemenuhan keinginan akan mempunyai anak suami dan isteri yang normalmempunyai kerinduan akan keturunan. Maka disebut “Batih” (babading getih) artinya membentuk sejarah dengan darah, yaitu membentuk generasi baru dalam keturunan) namun perlu diingat bahwa anak itu anugerah Tuhan, yang tak boleh dimutlakkan. Bila Tuhan tidak memberi, perkawinan tidak kehilangan artinya.
3. Pemenuhan Kebutuhan Seksual
Pria dan wanita yang dewasa dan norma merasakan kebutuhan seksual. Kebutuhan itu layak dipenuhi melalui hubungan seks antara suami isteri. Itu berarti bahwa persetubuhan diadakan bukan sekedar menuruti hawa nafsu, melainkan dengan kesadaran dan tanggung jawab penuh sehingga kebutuhan itu terpenuhi dalam suasana cinta kasih, dan disertai kerelaan dan tanggung jawab untuk menerima hidup baru sebagai “hasil perpaduan cinta kasih”

I. Ciri-Ciri Perkawinan
1. Menurut Pandangan Katolik
Menurut Ajaran Gereja Katolik perkawinan yang baik harus memiliki dan memperjuangkan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Monogami : seorang suami selayaknya hanya mempunyai satu isteri, demikian pula isteri mempunyai satu suami saja dengan demikian kelihatan bahwa cinta mereka penuh dan utuh tak terbagi. Hal itu juga mencerminkan prinsip bahwa pria dan wanita mempunyai martabat yang sama
b. Tak Terceraikan
Dalam perkawinan suami dan isteri telah mengikat diri dengan bebas, bahkan disatukan oleh Rahmat Tuhan sendiri. Cinta sejati adalah cinta yang setia, dalam keadaan manapun. Apa yang telah dipersatukan Tuhan janganlah diceraikan oleh manusia. Perceraian membuktikan bahwa suami dan isteri gagal mengembangkan cinta yang sejati.
c. Terbuka Bagi Keturunan
Suami dan isteri diharapkan bersedia mempunyai anak,. Bila Tuhan memberikannya. Adapun jumlah dan jarak kelahiran anak perlu direncanakan bersama dengan bijaksana. Segala bentuk pengguguran harus ditolak dengan tegas. Karena jelas-jelas merupakan sikap menolak keturunan yang sudah ada.

2. Menurut Agama Islam
Al-Qur’an menganjurkan perkawinan yang monogami dan tak terceraikan, dengan menunjuk pada pasangan suami-isteri yang pertama (An-Nisa, Ayat 1) adanya Konflik tidak perlu menjadi alasan untuk cerai, tetapi harus diselesaikan, bila perlu dengan bantuan orang lain. Agama Islam tidak melarang Poligami tetapi membatasinya (2,3, atau 4) dengan syarat suami bertindak adil terhadap semua isterinya dan alasannya bukan demi pelampiasan nafsu syahwat, melainkan demi kemanusiaan ( terutama membantu yakni piatu dan janda) demikian pula hukum Islam tetap membuka kemungkinan untuk bercerai, asal ada alasan yang berat (isteri yang mandul, terkena penyakit atau berzinah)

J. Halangan Perkawinan
Perkawinan menyangkut kepentingan banyak orang. Karena itu negara maupun agama menjaga agar hal itu dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Karena itu ditentukan beberapa halangan perkawinan, untuk mencegah terjadinya perkawinan yang akan merugikan banyak orang. Halangan-halangan itu adalah ;
1. Usia Muda
Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah berusia 19 Tahun dan wanita berusia 16 tahun. Kedua-duanya perlu izin dari orang tua bila belum berusia 21 tahun
2. Perbedaan Agama
Suami dan isteri membentuk suatu persekutuan yang mencakup seluruh hidup. Perbedaan agama dapat menghambat pembentukan kesatuan itu. Orang Katolik hanya memperbolehkan menikah dengan orang yang betrlainan agama bila telah mendapat dispensasi atau izin dari pimpinan gereja Katholik yang berwenang dan disertai janji dari pihak yang bukan Katolik bahwa tidak akan menghalang-halangi pelaksanaan kewajiban agama.
Hukum Islam melarang semua orang Islam untuk menikah dengan penyembah berhala. Wanita Islam dilarang menikah dengan pria bukan Islam tetapi pria Islam diizinkan menikah dengan wanita Kristen.
3. Hubungan Darah
Hubungan persaudaraan itu suci, maka selayaknya dipertahankan. Dua orang yang masih berhubungan dara (tunggal embah) dilarang menikah kecuali mendapat izin dari pimpinan gereja (juga dari negara) yang berwenang.
4. Ikatan Perkawinan Sebelumnya
Perkawinan dengan seseorang yang masih terikat oleh perkawinan out tidak sah. Karena itru duda atau janda cerai hanya diperbolehkan menikah lagi apabila perkawinan sebelumnya sudah diceraikan, tidak hanya oleh pengadilan negeri tetapi juga oleh pemimpin gereja Katolik yang berwenang (bila itu mungkin) bagi umat Katolik).
5. Lain-Lain
Misalnya, Impotensi
NB segala bentuk paksaan membuat perkawinan batal

K. Perkawinan : Impian Yang Mustahil ???
Sepasang pengantin baru yang masih “mabuk cinta” tentu mempunyai suatu impian tentang perkawinan mereka, dan mengharapkan kebahagiaan dalam keluarga yang baru mereka bentuk bersama.
Memang kita perlu punya suatu impian! Cita-cita boleh setinggi langit tetapi perkawinan yang ideal tidak “Jatuh dari langit” atau dengan sendirinya terjadi keluarga yang baik harus dibangun, hati demi hari, dengan kerelaan berkorban dan kesediaan menyesuaikan diri. Bila impian itu terlalu kurang realistis pasti mereka akan dikecewakan.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Seksualitas menunjuk pada keseluruhan ciri-ciri yang membedakan manusia sebagai pria atau wanita. Jadi seks hanya merupakan sebagian dari keseluruhan manusia
2. Karena seks hanya merupakan sebagian dari keseluruhan maka apa saja yang berkaitan dengan seks sering kali menimbulkan pandangan yang adalah atau porno
3. Perkembangan seksual remaja ditandai dengan perubahan-perubahan yang terjadi secara menyolok pada fisik maupun psikis.
– Fisik meliputi tumbuhnya tanda-tanda kedewasaan (kematangan fisik)
– Psikis goncangan jiwa yang menyolok seperti : tertarik pada lawan jenis, pemurung, malu-malu, gegabah dan sebagainya
4. Tahap pergaulan Anak Muda dapat dibagi dalam beberapa tahap : Teman Biasa, Jatuh Cinta, Pacaran, Pacangan dan pernikahan
5. Cinta bukan semata-mata dorongan nafsu, rasa tertarik, rasa simpati atau Asmara, melainkan suatu keputusan pribadi untuk bersatu dan rela menyerahkan diri demi membahagiakan pasangannya.
6. Pria dan wanita yang dewasa dan normal merasakan kebutuhan seksual, kebutuhan itu layak dipenuhi melalui hubungan seks antara suami isteri
7. Perkawinan merupakan persekutuan hidup yang menyatukan seseorang pria dan seseorang wanita dalam kesatuan lahir bathin yang mencakup seluruh hidup

B. Saran-Saran
Setelah pembahasan makalah ini kami harapkan rekan-rekan mahasiswa jurusan BK :
1. Dapat mengarahkan anak didiknya khususnya anak-anak usia remaja agar dapat membuka wawasan seluas-luasnya, dalam pergaulan tidak terlalu cepat mengambil keputusan dalam menentukan pacar.
2. Dapat mengarahkan dan membimbing serta memberi penjelasan pada anak didik wanita khususnya yang memasuki masa puber (haid pertama) agar tidak merasa kebingungn dalam menerima kenyataan
3. Dapat mengarahkan dan membimbing perilaku seksual yang benar bagi anak-anak usia remaja sehingga mereka dapat menjalin pergaulan yang luas dan tidak seronok (sembrono) dalam pergaulan, selalu mengedapankan rasio untuk melihat kenyataan yang sebenarnya dalam kehidupan
4. Mudah-mudahan makalah kami ini bermanfaat bagi rekan-rekan mahasiswa jurusan BK ini khususnya dan pengembangan dunia pendidikan pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Buku Keluarga Berencana Alamiah dan Kontrasepsi Oleh Drs. Th. Gieles, SJ
2. Buku We and Moral oleh Drs, Th. Gieles, SJ
3. Pengalaman Mengikti Mata Kuliah Moral dari D II PGSD Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta
4. Pengalaman Mengikuti Acara We and Moral 7 Hari Yang Diadakan oleh Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
5. Buku Menuju Keluarga Bahagia oleh Dr. Sarlito Wirawan Sarwono
6. Buku Problem Yang Dihadapi Muda-Mudi Oleh Ny. Pratiwi Knys

Satu Balasan ke PERILAKU SEKSUALITAS REMAJA DAN DAMPAKNYA PADA KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: