Makalah Jangan Duduk di Pinggir Jalan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Pengertian Jangan Suka Duduk Dipinggir Jalan
“Tanda-tanda kebencian Allah SWT terhadap seseorang ialah apabila ia menyia-nyiakan waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna. Apabila umur seseorang berlalu tidak digunakan untuk melakukan ibadah yang diperintahkan Allah SWT, maka pantas baginya menyesal sepanjang. Dan barang siapa telah berumur lebih dari empat puluh tahun, sedangkan amal baiknya belum mengalahkan kemaksiatannya, maka hendaklah ia bersiap masuk ke Neraka.”
Barangkali, tema pada makalah ini, kalau dibaca terasa janggal, pemberian judul makalah ini tidak bisa diterima. Bagaiman mungkin duduk dipinggir jalan saja dilarang.
Dalam hal ini terdapat beberapa sebab yang melatar belakangi sebagian orang kurang tertarik dengan tema ini, diantaranya :
1. Kurang menelaah lebih dalam lagi, akibat-akibat yang ditimbulkan karena duduk-duduk dipinggir jalan.
2. Karena adanya persepsi ini bahwa duduk-duduk dipinggir jalan itu, sebuah kegiatan untuk menghilangkan stress.
3. Karena hubungan dengan teman-temannya sudah terlanjur akrab dan terbiasa ngumpul-ngumpul, sehingga sulit untuk menghindar dan banyak lagi alasan lain.
Penulisan kesulitan mengungkapkan pengertian dari Jangan Duduk dipinggir Jalan, karena kalau orang membaca sudah akan memahami maksud dari kalimat tersebut.
Hanya penulis ingin menerangkan bahwa, duduk dipinggir jalan itu biasanya dilakukan dengan orang banyak / dengan teman-teman.
Dengan berkumpul dipinggir jalan, lebih banyak mengundang dosa, karena pembicaraan, pandangan kurang terjaga, misalnya mengumpat, menjelekjelekan orang lain, membuka rahasia orang lain dan omong-omongan yang mengundang syahwat dan melihat maksiat lainnya.
Karena maksit maka hati yang bening dan jiwa yang mengenal iman dan taqwa kepada Allah SWT perlahan-lahan menjadi lupa. Akhirnya seseorang akan merasa berat meninggalkan maksiatnya ketimbang mengingat Allah SWT. Untuk lebih jelasnya penulis ungkapkan pada Bab II.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Mengapa Duduk Dipinggir Jalan Dilarang ?
Sebagai manusia, kita memang harus menjalin pertemanan, persahabatan dan persaudaraan.
Adakah diantara kita yang hidup sendirian ? tengoklah satu aspek saja dalam kehidupan, baju misalnya.
Apakah kita membuat sendiri benangnya ? kancing bajunya ? menjahit sendiri ? ternyata jawabannya belum tentu ! boleh jadi kita menjahit baju sendiri, tetapi tentunya kita tidak membuat kainnya sendiri dan harus membelinya dari orang lain, demikian pula kancingnya dan aksesoris lainnya. Itu baru satu aspek, belum aspek yang lain. Contoh ini cukup sederhana, bahwa kita membutuhkan orang lain dalam kehidupan kita. Allah berfirman :

 ••           •      •    
Artinya : “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al-Hujurat : 13)
Allah menciptakan perbedaan agar terjalin hubungan, bukan untuk menyulut perpecahan. Sebagai makhluk sosial yang hampir selalu membutuhkan jalinan dengan sesama. Kita juga pasti bahagia dan bangga jika memiliki banyak teman.
Rasulullah SAW bersabda : “Al-mu’minu ya lafu wa yu’lafu wala khaira fiman la ya’lafu wala yu’lafu wa khairu annasi anfa’ uhum linsi artinya orang mu’min itu menjalin persahabatan dan mau dijalin ; tidak ada kebaikan bagio orang yang tidak mau menjalin persahabatan dan tidak mau dijalin sebaik-baiknya orang adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. “
Namun penulis tegaskan disini, berkumpul / berbaur dengan manusia tapi dalam hal kebaikan.
Kebanyakan orang terutama anak-anak muda berkumpul dengan teman-temannya sebaya, bukanutk kebaikan, tapi berkumpul duduk-duduk dipinggir jalan dan sebaginya, melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak berguna, Rasulullah pun melarang perbuatan tersebut.
Maka jikalau kita mengetahui diri kita dalam bergaul dengan sesama manusia dan ngobrol tanpa adanya suatu kebutuhan dan tujuan penting. Berarti sudah termasuk dalam kesia-siaan dan menggiring pada keangkuhan hati. Maka dari itu, bila seseorang melanggengkan dalam ibadahakan menemukan manisnya munajat kepada Alla. Hendaklah senang membaca dan mempelajari kitab Allah dan jangan sampaimenyibukkan diri dengan sesama makhluk dengan berkomplot dan berbicara tan membawa manfaat apa-apa. Maka hendaklah jangan sampai mengunakan waktu secara sembrono yang akibatnya akan membawa pada kerugian yang amat besar. Perlu diketahui bahwa waktu adalah merupakan umur kita, umur adalah sama saja dengan harta dan dagangan kita dan dengan memanfaatkan umur sebaik-baiknya akan sampailah kita pada kenikmatan yang kekal abadi disisi Allah.
Maka setiap jiwa dari jiwa-jiwa kita adalah merupakan permata yang tiada ternilai harganya. Jika gagal atau putus ditengah jalan, maka tak akan bisa diharapkan untuk kembali lagi. Karena itu, seyogyanya tidak lah disibukkan waktu sehari-hari, kecuali untuk menambah ilmu, beramal shaleh karena hanya keduanya ( ilmu dan amal shaleh ) nanti bisa jadi teman abadi dialam kubur saat dimana kita meninggalkan keluarga, harta, anak-anak dan para sahabat kita.
Hendaklah semua kegiatan yang menyita waktu kita diniatkan seluruhnya untuk beribadah. Suatu misal makan. Jangalah hanya diniatkan ingin mencari kelezatan dan mengenakkan tidur, tapi haruslah diniatkan supaya kuat dalam beribadah, kuat melakukan pekerjaan untuk mencari nafkah dan melakukan kegiatan sosial lainnya.
Diuraikan oleh Al-Qur’an Ghazali bahwa barang siapa bergaul dengan orang banyak dan bersekutu dengan mereka dalam segala pekerjaan, maka tidaklah terlepas dari adanya yang dengki dan musuh yang berburuk sangka. Dan menduga bahwa dia mengadakan persiapan untuk memusuhinya, menegakkan penipuan terhadapnya dan menanamkan marabahaya di belakangnya. Maka manusia betapapun tinggi lobanya kepada suatu hal, mengira setiap keras ditujukan kepadanya. Mereka ada musuh, maka hendaklah engkau mawas diri kepada mereka. Sesungguhnya menggebu-gebunya mereka kepada dunia, lalu mereka tiada menyangka orang lain, melainkan loba juga kepada dunia.
Agaknya adlah suatu sifat dan sikap yang dimiliki manusia dan menjadi ciri khasnya, bahwa setiap saat pandangan hidup mereka berubah-ubah. Ini karena adanya pengaruh dari luar bahwa baik dan jelek seseorang tergantung pada lingkungannya imana mereka berada. Manusia akan menjada putih jika lingkungnnya dan orang-orang yang dijadikan temen-temen bergaul itu putih. Dan seseorang akan menjadi hitam bilamana bergaul seseorang tersebut bersama-sama orang yang hitam perangainya.
Dalam kehidupan sehari-hari memang kita akui bahwasanya banyak sekalian bermacam-macam kejahatan yang akan membawa seseoarang lupa akan jalan Allah. Dan pada dasarnya seseorang yang semula mempunyai jiwa dan bhatin agama, mayorits pergaulan dalam kehidupannya sering-sering bersama-sama dengan orang-orang yang buta agama, dengan orang-orang yang mementingkan kehidupan dunia, maka lambat laun orang yang mepunyai jawa agama itu akan tersesat juga kesana. Pergaulan sehari-hari memang banyak memberikan pengaruh. Oleh sebab itu untuk menjaga agar jiwa yang sudah bernafas agama ini. Kesucian jiwa bisa tercapai, sebab ia terhindardari perbuatan-perbuatan yang tidak baik itu.
Dalam hubungan ini, Imam Al Ghazali berpendapat : “ Barangsiapa bercampur baur dengan manusia, maka ia tidak akan terlepas manyaksikan kemunkaran-kemunkaran. Kalau diam, niscaya mendurhakai Allah. Jika ia membantah, niscaya ia mendatangkan dirinya terhadap berbagai macam kemelaratan, kadangkala ia ditarik untuk mencari kelepasan dari segala kemelaratan tadi, kepada segala kemaksiatan yang lebih besar daripada apa yang dilarang pada mulanya terlepaslah ia dari semua yang disebutkan kejahatan yang dimaksud disini ialah segala kejahatan dalam dunia yang dimilki oleh manusia, misalnya mengumpat, dengki, membenci orang lain, sombong, sok suci, sok kaya, buruk sangka dan segala hal ihwal yang akan membawa manuisa jauhdari jalan akhirat dan mendekatkannya kejalan dunia, menjaga diri dan pengaruhnya.
Tiap-tiap orang yang bergaul dengan manusia dalam kegiatan sehari-hari, seseorang haruslah membatasi pembicaraan, menjaga dan menekan perasaaan untuk berbicara yang tidak berarti. Sebab menurut pandangan para mutashawwifin, mengumbar pembicaraan dikhawatirkan dapat menimbulkan dosa. Pembicaraan yang tiada artinya serungkali hanya menimbulkan penyakit hati. Lebih bijaksana diam, dari pada berbicara yang tiada berguna. Sesuai dengan Hadits yang artinya “ Salah Satu tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya : ( H.R. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah )
Ibnu Abbas pernah menasihatkan 2 hal yaitu :
1. Jangan memperturutkan hati untuk omong kosong karena hal itu tidak ada gunanya dan merupakan perbuatan bodoh.
2. Berbicara seperlunya ketika ada kesempatan untuk berbicara.
Dari banyanya pembahasan yang penulis uraikan diatas, berkumpul dengan teman-teman, apalagi sambil duduk dipinggir jalan atau dijembatan adalah suatu perbuatan yang banyak membuang waktu, dan mengundang dosa semata.
Ini sesuai dengan hadits yang penulis kutip pada Shahih Bukhari di halaman 450, yaitu :
 ) : .   ,    :  (• )
,, ) :  ?   :  (  , 
.( ,  , 
Artinya : “Hati-Hati! Jangan duduk dijalanan. “orang-orang berkata, “ tidak ada jalan. Itulah tempat kami duduk dan berbincang-bincang.” Nabi SAW bersabda, “ jika kalian duduk disitu, berikanlah hak jalan ?” mereka bertanya, “ apakah hak jalan ?” Nabi SAW bersabda, “ Merendahkan pandanganmu, tidak menyerang orang lain, membalas salam, memerintahkan al-Ma’ruf, dan melarang al-Munkar ”.
Ini berarti rasulullah memahami bahwa pergaulan dengan sesama manusia ditengah-tengah masyarakat akan memberikan pengaruh dan mepengaruhi atau menerima pengaruh. Ditambah lagi menurut teori Psikologi perkembangan bahwa manusia jadi putih jika lingkungannya putih dan jadi hitam jika lingkungannya hitam, manusia bergantung pada manusia lain.
Sudah menjadi sifat manusia, bahwa jika orang lain melakukan sesuatu, sedang orang itu setiap hari berkumpul dengannya tentu saja lambat laun akan terseret juga untuk melakukan sesuatu. Misalkan saja seseorang membecirakan kejelekan orang lain, sementara temanna selalu akrab bersamanya, tidak mungkin jika tidak turut terlibat membicarakannya. Pada saat kita berkumpul dan duduk di pinggir jalan setan berkhasil menipu “ Bahasa : kita untuk menggunjing aib orang yang berbeda dengan alasan kepentingan agama, sehingga kehormatan seseorang dijadikan bahan gunjingan, ejekan, cacian, selaan dan hinaan.
Diantara kita ada yang mengaku mencintai saudaranya karena Allah SWT, tidak karena orang lain, akan tetapi kalau diperhatikan prilaku sehari-hari, kita lihat perbedaan yang besar antara ucapan dan perbuatannya. Diantara bukti kebenaran persaudaraan dan cinta karena Allah SWT adalah membantu saudaranya untuk mendekatkan diri kepadaall, sebagaimana sahabat berkata kepada yang lainnya. “Duduklah bersama kami untuk beriman “. Akan tetapi sebagian kita masih membatasi pertemanan dengan teman-teman untuk hal yang positif, namun justru memilih bersenang-senang, membuang waktu dan membicara masalah duniawi semata, berkumpul-kumpul dipinggir jalan hanyalah membuang waktu.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sebagai manusia kita memang harus menjalin pertemanan, persahabatan dan persaudaraan.
Seperti Firman Allah terdapat pada surat Al-Hujurat Ayat 13, berbunyi:
 ••           •      •    
Artinya : “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al-Hujurat : 13)
Rasulullah pun pernah bersabda “ Orang mukmin itu meyalin persahabatan dan mau di jalin, sebaik-baiknya orang adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain “
Banyak anak-anak muda berkumpul, ngobrol di pingir-pinggir jalan bukan untuk kebaika, tapi lebih banyak membuat dosa, membuang waktu dengan sia-sia.
Imam Al-Ghazali berpendapat : “ Barang siapa bercampurdaur dengan manusia, maka ia tidak akan terepas menyaksikan kemungkaran-kemungkaran.
Pembicaraan yang tiada artinya sering kali menimbulkan penyakit hati. Ibnu Abas menasehatkan dua hal, yaitu :
1) Jangan memperturutkan hati untuk omong-kosong karena hal itu tidak ada gunanya dan berupa perbuatan salah.
2) Berbicara seperlunya ketika ada kesempatan untuk berbicara.
Ini juga sesuai dengan Hadits Bukhari halaman 450, yaitu:
 ) : .   ,    :  (• )
,, ) :  ?   :  (  , 
.( ,  , 
Artinya : “ Hati-Hati! Jangan duduk dijalanan. “orang-orang berkata, “ tidak ada jalan. Itulah tempat kami duduk dan berbincang-bincang.” Nabi SAW bersabda, “ jika kalian duduk disitu, berikanlah hak jalan ?” mereka bertanya, “ apakah hak jalan ?” Nabi SAW bersabda, “ Merendahkan pandanganmu, tidak menyerang orang lain, membalas salam, memerintahkan al-Ma’ruf, dan melarang al-Munkar ”.
Sebagian kita masih membatasi pertemuan dengan teman-teman untuk hal positif, namun juga untuk bersenang-senang, membuang waktu dan membicarakan masalah duniawi semata.
B. Saran-saran
Untuk menjaga agar jiwa yang sedang bernapaskan agama ini, dan terhindar dari perbuatan yang tidak baik itu.
Marilah kita membatasi pergaulan kita, agar kita bisa terhindar dari hal-hal yang tidak berguna, bisa memilah dan memilih mana pergaulan yang menguntungkan atau membawa kebaikan, dan mana yang tidak.

DAFTAR PUSTAKA

Imam Az-Zabidi “ Ringkasan Shahih Al-Bukhari “. Penerbit Mizan Ilmu-Ilmu Islam, Bandung, Tahun 2000. Hal 450
Seri. Pengembangan Pribadi Remaja. Kado Buat Sahabat Oleh Izzatul Zannah. Penerbit Era Eureka PT. Era Adicitra Intermedia. Solo. 2003. Hal 10
Drs. M. Thalib. 25 ciri Zaman Edan dan 20 Langkah Mengahadapinya. Penerbit Irsyad Baitus Salam. Bandung. 2000. Hal. 203
Muhammad As-Sudari. “ Bahaya Teman “. Penerbit Gema Insani Press. Jakrta. 2000 Hal 1-5
Dr. Madji Al-Hilali. 38 Sifat Generasi Unggulan. Penerbit Gema Insani Press. Jakarta. Hal 21
Ust.Labib MZ. Drs.Moh Al A’ziz “ Tashawuf Dan Jalan Hidup Para Wali ”. Penerbit Bintang Usaha Jaya : Surabaya. 2002, Hal 132-133

JANGAN SUKA DUDUK DIPINGGIR JALAN

TUGAS MATA KULIAH
AQIDAH AKHLAK

DISUSUN OLEH :
EKO SUSANTO

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
KUALA KAPUAS

KATA PENGANTAR

   

Assalamualaikum Wr. Wb
Shalawat dan salam kita haturkan kepada Rasulullah yang telah memberikan ilmu untuk mengenal Allah SWT lebih dekat lagi, begitu juga sahabat beliau.
Dan lebih lagi penulis panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, atas taufiq dan hidayah sehingga penulis bisa menyelesaikan tugas dari mata kuliah Aqidah Akhlak ini.
Tak lupa penulis ucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Bapak Dr. H. Muhidin, SH, yang telah memberikan tugas ini, sehingga penulis bisa mendapatkan ilmu dan memahami mengapa duduk dipinggir jalan dilarang ?
Seandainya tidak ada tugas ini, mungkin penulis kurang memahami dan mengangap duduk dipinggir jalan itu adalah sesuatu yang lumrah dan tidak berarti apa-apa.
Makalah ini penulis sadari, kurang sempurna dan terlalu sedikit yang penulis ungkapkan, maka saran dan kritik penulis harapkan agar penulisan makalah dimasa yang akan datang akan lebih sempurna. Insya Allah
Kuala Kapuas, 200
Penulis

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii

BAB I PENDAHULUAN 1
B. Pengetian Jangan Duduk Dipinggir Jalan 1
BAB II PEMBAHASAN 3
B. Mengapa Duduk Dipinggir Jalan Dilarang 3
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 8
B. Saran-Saran 9
DAFTARPUSTAKA 10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: