PERANAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM DI SD-MI

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pendidikan yang diselenggarakan di negara kita adalah suatu upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dalam rangka mewujudkan pembangunan nasional yaitu masyarakat yang adil dan makmur serta sejahtera baik lahir maupun batin. Pada dasarnya semua mata pelajaran yang diberikan di sekolah, mempunyai tugas dan tujuan yang sama yakni membimbing, membina, mengembangkan pengetahuan dan keterampilan bagi siswa.
Menyadari akan rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia dibandingkan dengan negara lain, termasuk negara-negara di kawasan Asia Tenggara serta semakin pesatnya perkembangan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pendidikan, maka pemerintah membuat kebijakan-kebijakan untuk merespon tuntutan keadaan dan perkembangan.
Kebijakan-kebijakan dimaksud adalah berupaya untuk merevisi UU No.2 Tahun 1989 tentang Pendidikan Nasional (SISDIKNAS), menyelenggarakan kurikulum berbasis kompetensi, manage men berbasis sekolah, pendidikan keahlian hidup (Life Skills Education) serta konsep mengajar dan belajar melalui pendekatan contextual.
Untuk memperoleh hasil yang baik dalam suatu proses pembelajaran, perlu diambil berbagai upaya dan kegiatan untuk mencapainya. Upaya tersebut dengan menggunakan pendekatan tertentu, dimana pemilihan dalam penggunaan pendekatan yang tepat pada bidang studi yang diajarkan merupakan komponen dari strategi pembelajaran.
Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Pada proses pembelajaran masih ber fokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Untuk itu diperlukan strategi baru yang lebih memberdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, namun strategi yang mendorong siswa mengkontruksi pengetahuan di benak mereka sendiri.
Mengajar dan belajar dengan pendekatan kontekstual merupakan kebijakan baru yang dikembangkan oleh Direktorat Dinas Pendidikan. Pendidikan kontekstual adalah salah satu dari komponen strategi pembelajaran yang dikembangkan oleh John Dewey pada tahun 1916. pendekatan kontekstual adalah filosofi belajar yang menekankan pada perkembangan minat dan pengalaman siswa.
Zakorik (1915) mengatakan bahwa dalam proses belajar akan sangat efektif apabila pengetahuan baru yang diberikan kepada siswa berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang sudah ada sebelumnya dalam kehidupan sehari-hari.
Perumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang masalah tersebut dan untuk memperjelas permasalahan yang akan dibahas, maka penulis memandang perlu untuk merumuskan masalah tentang pendekatan kontekstual sebagai berikut :
1. Bagaimana hubungan pendekatan kontekstual dengan pendekatan-pendekatan lainnya ?
2. bagaimana cara penerapan pendekatan kontekstual pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pada siswa Sekolah Dasar (SD).

Tujuan Penulisan
Menyadari akan rendahnya kualitas sumber Daya Alam (SDM) Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain, termasuk negara di kawasan Asia tenggara serta semakin pesatnya perkembangan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pendidikan maka perlunya menyelenggarakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Management Berbasis Sekolah (MBS), pendidikan keahlian hidup maka sangat perlu juga konsep mengajar dan belajar melalui pendekatan kontekstual dimana keduanya merupakan perpaduan saling berkaitan dan bertujuan yaitu:
Meningkatkan motivasi siswa untuk mengembangkan pengetahuan yang diperoleh di kelas dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Mengembangkan kreativitas fisik dan mental siswa dalam belajar.
Membantu guru dalam mengaitkan isi atau materi pelajaran dengan keadaan dunia nyata.
Memperbaiki kelemahan yang ada pada pelaksanaan proses belajar mengajar serta mempermudah seorang guru untuk mencapai suatu tujuan

Metode Penulisan
Adapun metode atau cara pembuatan karya tulis ini, penulis menggunakan metode Library Research (Kepustakaan).
Metode Library Research (Kepustakaan), yaitu segala yang diuraikan dalam karya tulis ini bahan pembuatannya di kutip dari buku-buku bacaan yang menjadi sumber pengetahuan yang berhubungan dengan kependidikan.

Sistematika Penulisan
Dalam penulisan karya tulis ini terdiri dari empat Bab yang mana pada tiap-tiap Bab berisikan beberapa pokok bahasan /masalah sebagai berikut:
BAB I : Merupakan Bab pendahuluan yang berisikan tentang latar belakang, perumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.
BAB II : Berisikan landasan teoritis mengenai pengertian umum tentang pendekatan kontekstual, fungsi dan tujuan pendekatan kontekstual dan dasar-dasar penggunaan pendekatan kontekstual.
BAB III : Mengenai peranan pendekatan kontekstual pada pembelajaran IPA di SD/MI, berbagai macam pendekatan yang digunakan untuk pembelajaran IPA di kelas.
BAB IV : Adalah Bab penutup yang berisikan kesimpulan dan saran-saran.
BAB II
PENGAJARAN BAHASA ARAB

A. Pengertian Pendekatan Kontekstual
Kata “Pendekatan” menurut Kamus Bahasa Indonesia karangan WJS Poerwadarminta berarti hal (perbuatan, usaha) mendekati atau mendekatkan.
Menurut A.S Hornby dan E.C Parnwell, Via Siswojo (1998 : 5) contextual berarti susunan atau hubungan antara satu kalimat dengan kalimat lainnya (yang membantu menunjukan arti).
Pengertian secara umum pendekatan kontekstual adalah pendekatan yang digunakan pada proses belajar mengajar di mana materi kegiatannya berhubungan erat dengan pengalaman nyata secara di luar sekolah.
Tiap pokok bahasan bidang studi yang diajarkan harus menggunakan pendekatan tertentu. Pendekatan dalam proses belajar mengajar pada hakekatnya suatu usaha seorang guru untuk mengembangkan ke aktifan pembelajaran. Pendekatan yang telah digunakan berperan penting dalam menentukan berhasil tidaknya proses belajar mengajar yang diinginkan. Pendekatan dalam pembelajaran merupakan proses pengalaman untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap materi pelajaran.
Pendekatan kontekstual merupakan perpaduan beberapa pendekatan dan praktek pengajaran yang baik dan sudah kita kenal sebelumnya misalnya pendekatan lingkungan, pendekatan konsep, pendekatan nilai, pendekatan pemecahan masalah, pendekatan penemuan dan lain-lain.
Pada hakekatnya pendekatan kontekstual merupakan respon terhadap pendekatan yang telah ada dan populer yaitu behaviorisme yang menekankan pada konsep stimulus dan respon dengan pelatihan yang bersifat drill.
Pengajaran dan pembelajaran kontekstual merupakan suatu teknik pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan pendekatan untuk membantu guru dalam mengaitkan isi atau materi pelajaran dengan keadaan dunia nyata. Pembelajaran ini memotivasi siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di kelas dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga, warga masyarakat.

B. Fungsi dan Tujuan Pendekatan Kontekstual
Adapun fungsi dari “pendekatan kontekstual” pada proses belajar mengajar, yaitu:
a. Sebagai salah satu alternatif (pilihan) dalam penggunaan berbagai pendekatan pembelajaran.
b. Respon (tanggapan) terhadap pendekatan telah ada dan sudah terkenal (populer).
c. Memperbaiki kelemahan yang ada pada pelaksanaan proses belajar mengajar.
Sebagai salah satu atau bagian dari strategi belajar, pendekatan kontekstual mempunyai tujuan yaitu:
Meningkatkan motivasi siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di kelas dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Mengembangkan kreativitas fisik dan mental siswa dalam belajar.
Membantu guru dalam mengaitkan isi atau materi pelajaran dengan keadaan dunia nyata.

C. Dasar Teori Penggunaan Pendekatan Kontekstual
Berdasarkan Teori Para Ahli Pendidikan, diantaranya :
a. Menurut Neman dan Logan, dalam strategi dasar belajar mengajar meliputi empat masalah yang dapat diterapkan dalam konteks pendidikan yaitu:
Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian peserta didik yang bagaimana diharapkan.
Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.
Memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat, efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiatan mengajarnya.
Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria dan standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan oleh seorang guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik buat penyempurnaan sistem instruksional yang bersangkutan secara keseluruhan.
Dari uraian di atas tergambar bahwa ada empat masalah pokok yang sangat penting yang dapat dan harus dijadikan pedoman pelaksanaan kegiatan belajar mengajar supaya berhasil sesuai dengan yang diharapkan.
Pada point kedua dapat diterangkan lebih lanjut, bahwa bagaimana cara kita memandang suatu persoalan, konsep, pengertian dan teori apa yang kita gunakan dalam memecahkan suatu kasus akan mempengaruhi hasilnya. Suatu masalah yang dipelajari dua orang dengan pendekatan berbeda akan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang tidak sama.
Norma-norma sosial seperti baik, benar, adil dan sebagainya akan melahirkan kesimpulan yang berbeda bahkan mungkin bertentangan kalau dalam cara pendekatan nya menggunakan berbagai disiplin ilmu.
b. Menurut John Dewey (1915) menyatakan bahwa: “Kontekstual adalah filosofi belajar yang menekankan pada pengembangan minat dan pengalaman siswa”. Dapat dijabarkan bahwa “penggunaan pendekatan kontekstual adalah filsafat belajar yang mana dalam filsafat belajar itu sangat mengutamakan pada pengembangan minat atau keinginan yang mendalam dan dari berbagai pengalaman hidup yang telah di alami siswa itu sendiri.
c. Menurut Zakorik (1995) menyatakan bahwa: “dalam proses belajar akan sangat efektif apabila pengetahuan baru yang diberikan kepada siswa berdasarkan pengalaman yang sudah ada sebelumnya dalam kehidupan sehari-hari”.
Berdasarkan Undang-Undang (UU)
Dalam pembuatan karya tulis ini penulis mengambil dasar penulisan dan Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang mana dalam Undang-Undang tersebut berisi pernyataan-pernyataan yaitu:
Menyelenggarakan kurikulum berbasis kompetensi
Management berbasis sekolah
Pendidikan keahlian hidup (life skill education)
Konsep belajar mengajar melalui pendekatan kontekstual

BAB III
PERANAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA
PEMBELAJARAN DI SD/MI

A. Berbagai Macam Pendekatan
Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah, tidak hanya menggunakan satu atau dua pendekatan saja tetapi dapat menggunakan beberapa macam pendekatan yang sesuai dengan pokok bahasan.
Berbagai pendekatan yang digunakan dalam proses pembelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) antara lain adalah: pendekatan lingkungan, pendekatan konsep, pendekatan nilai, pendekatan pemecahan masalah, pendekatan penemuan, pendekatan inkulri, pendekatan keterampilan proses, pendekatan sejarah, pendekatan deduktif/induktif, pendekatan belajar tuntas, pendekatan modul dan pendekatan dengan komputer serta pendekatan kontekstual.
Dari penjelasan tersebut dapat di uraikan lebih lanjut yaitu:
Pendekatan Lingkungan
Lingkungan alam dapat berupa halaman, kebun, lapangan rumput, semak-semak, hutan, selokan, kolam, sungai danau, gurun, rawa, pesisir, pantai, laut, jalan, engkel, pabrik, kawasan industri dan lain-lain. Dapat dipahami bahwa pendekatan lingkungan merupakan laboratorium yang tanpa batas. Dalam pendekatan lingkungan dapat dilakukan percobaan-percobaan yang bila dilakukan didalam ruangan laboratorium tidak mungkin dilaksanakan. Pendekatan lingkungan adalah pendekatan yang berorientasi pada alam bebas dan alam nyata, tidak selalu harus ke tempat yang jauh, dapat dilakukan di alam sekitar sekolah.
Pendekatan Konsep
Pendekatan konsep dapat berupa konsep nyata (Kongkrit) dan konsep abstrak (tidak nyata). Konsep nyata yang dapat ditunjukkan kepada siswa seperti: meja guru, meja siswa, papan tulis, almari adalah konsep bentuk empat persegi panjang. Konsep abstrak besarnya dalam bentuk definisi seperti kesehatan, mulut daun, rabun ayam, mata angin dan lain-lain.
Pendekatan Nilai
Pendekatan nilai biasanya menyangkut hal-hal yang dianggap ideal, baik, sempurna, dan yang di cita-citakan. Pendekatan nilai dalam wujudnya yang nyata adalah keyakinan kita sendiri sebagai guru mengenai hidup, keadilan, kebenaran, pengorbanan, dan sebagainya.
Dalam memberikan pelajaran seorang guru hendaknya menjelaskan dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam yang menggunakan pendekatan nilai harus sesuai dengan nilai-nilai yang dianut sekolah tempat kita mengajar, yang biasanya sejalan dengan nilai yang berlaku dari masyarakat dimana sekolah itu berada. Misalnya: keanekaragaman tanaman-tanaman pangan makin berkurang, keanekaragaman burung berkurang, menangkap ikan dengan bahan peledak, hukuman mati dengan sengatan listrik dalam pelajaran arus listrik, dan lain-lain
Pendekatan nilai mengandung makna apakah tindakan yang dilakukan itu baik atau buruk, berguna atau tidak.
Pendekatan Pemecahan Masalah
Pemecahan masalah adalah suatu proses dimana siswa menemukan kombinasi aturan-aturan yang telah dipelajari terlebih dahulu yang digunakan untuk menyelesaikan kesulitan masalah tersebut. Ilmu pengetahuan alam mengembangkan kebiasaan berfikir ilmiah dan berfikir bebas. Untuk mencocokan masalah siswa harus berfikir, membuat hipotesis, kemudian ditarik kesimpulannya.
Dibawah ini adalah satu contoh suatu pemecahan masalah mengenai daur hidup katak.
Di air atau di daratkah katak bertelur ?
Bernapas dengan apakah kecebong ?
Mengapa kecebong ber ekor sedangkan katak tidak ?
Bandingkan perbedaan anggota tubuh kecebong dengan katak ?
Bernapas dengan apakah katak dewasa ?
Dalam pemecahan masalah ilmu pengetahuan alam, siswa harus mencari hubungan sebab akibat. Siswa juga harus mengembangkan kebiasaan untuk menentukan keputusan, mempertimbangkan bukti-bukti yang ada, dan menarik kesimpulan sementara. Pemecahan masalah ini dapat diperoleh dan terjadi di waktu praktek di laboratorium, praktek lapangan, demonstrasi dan di waktu melakukan percobaan
Pendekatan Penemuan (Discovery)
Dalam pendekatan penemuan siswa di biarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental sendiri. Contoh pelaksanaan di dalam pembelajaran, yaitu:
Guru mengajukan pertanyaan, benarkah logam bila di panaskan memuai?
Siswa di minta mengukur panjang berupa alat dari logam yang mereka miliki terlebih dahulu sebelum di panaskan.
Siswa di minta memanaskan tig sampai empat alat yang mereka miliki yang di buat dari logam seperti, peniti, jarum kawat, dan sebagainya.
Siswa di minta mengukur benda-benda logam yang sudah di panasi tadi
Betulkah ada perbedaan panjang logam sebelum dan sesudah di panasi
Perlu di sadari kelemahan pendekatan penemuan antara lain memakan waktu banyak, hanya sesuai untuk materi pelajaran yang bersifat pengertian saja, kurang memperhatikan pembentukan sikap dan keterampilan.
Bila tidak terarah dan tertanding oleh guru maka dapat mengarahkan kepada kekaburan terhadap materi yang di ajarkan.
Pendekatan Inkuiri
Pendekatan inkuiri adalah suatu pendekatan yang menggunakan cara bagaimana atau jalan apa yang harus di tempuh oleh siswa dengan bimbingan guru untuk sampai pada penemuan-penemuan, dan buatan penemuan itu sendiri. Contoh pendekatan inkuiri yang dapat di kenal adalah apa yang di lakukan oleh Fransisco Redi (1621-1687). Redi berpendapat lain, bahwa larva itu tidak muncul dengan sendirinya. Tetapi larva itu berasal dari telur yang diletakkan oleh lalat yang hinggap pada daging tersebut. Redi kemudian menguji dugaannya atau hipotesis nya dengan percobaan sederhana.
Dalam cara kerjanya dapat dilihat bahwa pendekatan inkuiri ilmu pengetahuan alam, yaitu pertama membuat perumusan hipotesis, kedua menguji hipotesis itu. Jadi bila menemukan suatu masalah yang perlu jawaban, tidak begitu saja salah dijawab, tetapi memakai langkah-langkah pencarian atau menemukan jawabannya yang benar.
Langkah-langkah pengajaran dengan pendekatan inkuiri dapat dilakukan sebagai berikut :
Pertama, Siswa dikelompokkan dalam tiap kelompok terdiri dari lima siswa seorang sebagai ketua, seorang pencatat, seorang pengarah, seorang pemantau diskusi dan seorang perangkum.
Kedua, Guru mengajukan permasalahan dalam bentuk pertanyaan atau hipotesis. Masalah jangan terlalu umum, tetapi dipersempit. Contoh pertanyaan yang terlalu umum, “apa yang dimaksud Fotosintensis?” sebaiknya lebih dipersempit misalnya, “Faktor apa saja yang mempengaruhi fotosintesis?”
Ketiga, Untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis, siswa diberi kesempatan untuk mengumpulkan berbagai keterangan yang sesuai dengan masalah yang akan dikaji jawaban terhadap pertanyaan hendaknya tidak diperoleh dari kepustakaan, sebaiknya informasi diperoleh dengan jalan mengamati objeknya mencoba sendiri atau melakukan percobaan, mewawancarai nara sumber dan sebagainya.
Keempat Keterangan-keterangan yang terkumpul dari hasil percobaan, diolah, diklasifikasikan, ditabulasi, bila perlu dihitung dan ditafsirkan.
Kelima, Dari hasil pengelolaan data tadi nantinya akan diperoleh jawaban terhadap masalah diatas, kemudian ditarik kesimpulan umum.
Pendekatan inkuiri ini berdasarkan kepada prosedur yang dilakukan untuk sampai pada penemuan-penemuan bukan penemuan itu sendiri. Pendekatan inkuiri lebih jauh mengaktifkan siswa daripada ceramah yang diberikan guru, membaca buku, pemberian informasi dan lain-lainnya.
Pendekatan Keterampilan Proses
Keterampilan proses dalam IPA meliputi :
Keterampilan Dasar yaitu :
a. Melakukan pengamatan (observasi)
b. Penggolongan (klasifikasi)
c. Penyampaian (komunikasi)
d. Pengukuran (measurement)
e. Prakiraan (prediksi)
f. Penarikan kesimpulan.
Keterampilan Terintegrasi yaitu :
g. Menentukan faktor perubahan (identifikasi variabel)
h. Menyusun tabel
i. Menyusun grafik
j. Menggambarkan hubungan diantara variabel-variabel
k. Memperoleh dan memproses data
l. Menganalisis hasil penyelidikan
m. Menyusun hipotesis
n. Merumuskan variabel-variabel secara operasional
o. Merancang penyelidikan
p. Melakukan percobaan
Pendekatan keterampilan proses adalah pendekatan pada proses-proses yang digunakan untuk mengungkapkan dan menemukan fakta serta menumbuhkan sikap, nilai dan konsep yang dilakukan oleh seorang ilmuwan, salah satu contoh pendekatan keterampilan proses misalnya guru menggolongkan pohon kelapa, pohon enau, pohon jambu dalam satu golongan tanaman biji tunggal yang disebut monokotil. Maka kita telah menemukan konsep “monokotil”.

Pendekatan sejarah
Untuk menerangkan tentang penemuan hukum gaya berat yang ditemukan oleh Isaac Newton, atau menceritakan penemuan mesin uap oleh James Watt sudah tentu menggunakan pendekatan sejarah. Begitu banyak penemuan- penemuan alat maupun fakta yang di lakukan oleh ahli-ahli IPA, seperti teori velativitas yang di temukan oleh Albert Einstein, radium yang di temukan oleh Marie Cirie, hukum Archimedes yang ditemukan oleh Archimedes, pengembang bola lampu pijar Thomas Alfa Edison p, penyempurna mikroskop Anthony Van Leeuwenhoek dan lain sebagainya. Untuk menjelaskan penemuan-penemuan itu tentu sebagai seorang guru harus menceritakan nya dengan menggunakan pendekatan sejarah.
Pendekatan Deduktif dan Induktif
Dalam hal penemuan logam yang dipanaskan, bila seorang guru menjelaskan pada siswa bahwa logam bila dipanaskan akan memuai. Hal ini berarti menggunakan pendekatan deduktif. Deduktif penalaran nya terkait dengan nasionalisme (penggunaan pikiran), jadi deduktif itu dari hal-hal umum ke kesimpulan khusus.
Bukti-bukti nyata yang ditemukan dari beberapa bahan dari logam bila dipanaskan memuai, kemudian hal itu guru terangkan kepada siswa, maka guru itu telah menggunakan pendekatan induktif. Jadi induktif adalah hal-hal dari khusus ke kesimpulan umum.
Pendekatan Belajar Teater
Menurut pengalaman bila siswa diberi kesempatan belajar menurut kemampuannya, maka setiap siswa itu dapat menguasai pelajaran yang dipelajarinya dengan baik. Hanya saja siswa mungkin ada yang memerlukan waktu 60 menit, 75 menit atau 90 menit untuk mempelajari suatu pokok bahasan.
Dengan demikian taraf penguasaan siswa dapat disetarakan bila disediakan waktu yang sesuai dengan yang diperlukan oleh masing-masing siswa.
Pendekatan belajar tuntas (Mastery Learning) ini harus dimulai dengan penguasaan bagian terkecil, kemudian yang lebih besar dari bahan yang diberikan kepada siswa. Menerapkan belajar tuntas perlu diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi taraf penguasaan siswa terhadap bahan pelajaran sesuai kesanggupan untuk memahami, ketekunan, mutu pelajaran dan waktu yang disediakan untuk belajar.
Pendekatan Modul
Pendekatan modul berupa pemberian bahan pelajaran dalam satuan (per modul/per unit) pokok bahasan sampai pada satuan terkecil (per kegiatan) atau per sub pokok bahasan.
Pendekatan dengan Komputer
Pembelajaran ilmu pengetahuan alam dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan komputer. Komputer tidak dapat digunakan untuk memberikan pelajaran tiap bidang studi atau mengenai topik-topik tertentu sehingga dapat pula meringankan tugas guru. Penggunaan komputer dapat dilengkapi dengan slide dan film projector, tape recorder, earphone, serta layar televisi. Pembelajaran dengan komputer mampu menayangkan unsur pendengaran, penglihatan, gambar draft yang digerakkan atau animasi dan gabungan ketiganya, komputer berfungsi juga sebagai media interkatif artinya dapat memberikan rangsang dan umpan balik pada murid sehingga pendekatan komputer merupakan pembelajaran yang bersifat multimedia.
Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontekstual mempunyai tujuh komponen utama yaitu: Konstruktivisme, menemukan, bertanya, masyarakat belajar, permodelan, refleksi, dan penilaian yang sebenarnya.
1.1 Konstruktivisme
Merupakan landasan berfikir pendekatan kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan yang dibangun oleh manusia sedikit-demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep yang siap diambil dan diingat, namun untuk menemukan pengetahuan harus mengkontruksi melalui keterlibatannya yang aktif dalam proses belajar mengajar. Penerapannya dalam kelas adalah guru merancang kegiatan pembelajaran dalam bentuk murid bekerja praktek mengerjakan sesuatu, berlatih secara fisik, mendemonstrasikan, menciptakan ide dan sebagainya.
1.2 Menemukan
Menemukan merupakan kegiatan inti dalam kegiatan kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan dari hasil mengingat seperangkat fakta, namun hasil dari menemukan sendiri. Adapun langkah-langkah kegiatan menemukan diantaranya adalah : merumuskan masalah, mengamati dan melakukan observasi, menganalisis dan menyajikan hasil observasi melalui tulisan dan laporan.
1.3 Bertanya
Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya, kegiatan bertanya adalah awal dari menemukan pengetahuan baru, sebab bertanya itu hakikatnya adalah kegiatan menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui dan mengarahkan perhatian pada kegiatannya adalah : bertanya antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan personalia pendidikan lainnya.
1.4 Masyarakat belajar
Konsep masyarakat belajar menghendaki bahwa pengetahuan yang diperoleh melalui saling berbagi (Sharing) antar teman, antar kelompok, antar yang tahu dengan yang belum tahu.
Metode pembelajaran dengan teknik learning comity ini sangat menentukan proses pembelajaran di kelas. Prakteknya dalam pembelajaran terwujud dalam pembentukan ahli ke kelas (tokoh polisi, perawat, petani, pejabat, dan sebagainya), bekerja dengan masyarakat dan bekerja dengan kelompok.
1.5 Permodelan
Dalam proses pembelajaran sistem kontekstual, ada model yang bisa di tiru, pemberi contoh tidak harus guru, model dapat diambil dari individu yang ahli dan menguasai bidangnya, maka model dapat seorang petani, tukang kayu, petugas kesehatan dan lain-lain.
1.6 Refleksi
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir kebelakang terhadap sesuatu yang pernah dipelajari. Siswa mengedapankan apa yang baru dipelajari sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan yang lama.
Refleksi dalam praktek pembelajaran adalah: murid memberi kesan dan saran terhadap pelajaran yang baru diajarkan, murid disuruh membuat jurnal di buku murid.
1.7 Penilaian Yang Sebenarnya
Penilaian yang sebenarnya maksudnya adalah penilaian yang menekankan proses pembelajaran yang dikumpulkan dari kegiatan nyata siswa pada saat melakukan proses pembelajaran, bukan melalui hasilnya. Hal-hal yang dapat digunakan sebagai dasar menilai siswa antara lain : kesungguhan mengikuti proses pembelajaran, cara mendemonstrasikan, jurnal siswa, karya tulis, persentase, pekerjaan rumah (PR), karya siswa.

B. Berbagai Pendekatan Yang Di Gunakan Untuk Pembelajaran IPA di Kelas
Pendekatan-Pendekatan Yang di Gunakan Untuk Pembelajaran IPA di Kelas III dan IV SD/MI.
Pendekatan yang sesuai untuk pembelajaran IPA untuk murid kelas III dan IV, sehingga diperoleh penghayatan yang kongkrit antara lain : pendekatan lingkungan, pendekatan konsep, pendekatan deduktif/induktif, pendekatan inkuiri, pendekatan penemuan dan pendekatan keterampilan proses.
Pendekatan-pendekatan yang digunakan untuk pembelajaran IPA kelas V SD/MI
Untuk pembelajaran IPA di SD/MI kelas V dan VI, ada tiga alternatif pendidikan utama. Pendekatan pertama memberi tekanan pada fakta-fakta IPA, pendekatan kedua memberi tekanan kepada konsep dan hubungan antar konsep, pendekatan terakhir memberi tekanan kepada proses-proses yang oleh IPA dimanfaatkan untuk mengungkapkan fakta dan mengembangkan model. (Subyanto: 1990).
Ada enam hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih pendekatan untuk pembelajaran IPA kelas V SD/MI, yakni : tujuan belajar, psikologi belajar, kemampuan siswa, bahan ajar, alokasi waktu, sarana prasarana yang tersedia dan pribadi guru.
Pokok bahasan dan jenis pendekatan alternatif yang digunakan dalam pembelajaran IPA SD/MI kelas V yaitu :

No Pokok Bahasan Pendekatan Alternatif
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10 Penyesuaian makhluk hidup
Hubungan antar makhluk
Tumbuhan hijau
Makanan dan kesehatan
Pencernaan makanan
Sumber daya alam
Cahaya
Energi dan gaya
Pesawat sederhana
Pengaruh panas terhadap benda Keterampilan proses
Konseptual
Keterampilan proses
Konseptual
Factual
Konseptual
Keterampilan proses
Factual
Keterampilan proses
Factual

Pendekatan-pendekatan yang digunakan untuk pembelajaran IPA di kelas VI SD/MI
Dasar-dasar penentuan dan penelitian pendekatan belajar yang akan digunakan untuk pembelajaran IPA di kelas VI SD/MI pada prinsipnya sama dengan pembelajaran untuk kelas V SD/MI.
Salah satu alternatif dari penggunaan pendekatan untuk pembelajaran IPA SD/MI kelas VI adalah sebagai berikut :

No Pokok Bahasan Pendekatan Alternatif
1

2 Perkembangbiakan makhluk hidup dan tanggapan makhluk hidup terhadap rangsangan
Populasi Keterampilan proses

C. Memilih Pendekatan dan Metode Belajar Untuk pembelajaran IPA di SD/MI
Apabila kita hendak mempergunakan suatu metode dan pendekatan tertentu, maka harus memperhatikan banyak hal. Misalnya faktor usia. Usia siswa berpengaruh terhadap penentuan pendekatan metode belajar, untuk siswa usia sekian, paling baik digunakan ialah metode ini atau itu.
Di bawah ini akan diuraikan garis besar faktor-faktor yang perlu menjadi bahan pertimbangan bagi kita, ketika kita hendak memilih pendekatan dan metode belajar tertentu
1. Pendekatan dan metode belajar hendaknya sesuai dengan tujuan
Kita sudah mengenal adanya tujuan institusional. Jelaslah kiranya, untuk mengajar di jenjang pendidikan yang berbeda, perlu menggunakan metode yang berbeda dengan mengajar IPA untuk siswa sekolah menengah umum.
Pengajaran IPA di SD, berdasarkan kurikulum pendidikan dasar tahun 1994, bertujuan agar siswa :
Memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dalam kehidupan sehari-hari,
Memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan, dan gagasan tentang alam sekitar,
Mempunyai minat untuk mengenal dan mempelajari benda-benda serta kejadian di lingkungan sekitarnya,
Bersikap ingin tahu, tekun, terbuka, kritis, mawas diri, bertanggung jawab, bekerja sama dan mandiri,
Mampu menerapkan berbagai konsep IPA untuk menjelaskan gejala-gejala alam dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari,
Mampu menggunakan teknologi sederhana yang berguna memecahkan suatu masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari,
Mengenal dan memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar sehingga menyadari ke besaran dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa.
2. Pendekatan dan metode belajar hendaknya diadaptasikan dengan kemampuan siswa
Secara umum dapat kita katakan, pengajaran tidak akan mengenal sasaran apabila siswa belum siap mempelajari nya. Suatu pelajaran yang di rencanakan serta di susun dengan baik, menggunakan metode dan pendekatan yang tepat, dan di berikan tidak dapat mengikuti nya dengan baik.
Metode mengajar perlu di sesuaikan dengan kemampuan dan kesiapan para siswa, kita perlu realistis menghadapi hal seperti ini. Tetapi, kita perlu hati-hati, sehingga kita tidak keliru dalam membuat keputusan tentang kemampuan siswa, kita harus dapat mengetahui dengan pasti, apakah ketidakmampuan para siswa itu benar-benar karena tidak mampu, atau sebenarnya mereka mampu tetapi malas. Untuk itu perlu diciptakan alat penilaian yang tepat.
3. Pendekatan dan metode belajar hendaknya sesuai dengan psikologi belajar
Dalam hubungannya dengan psikologi belajar ini, seringkali kita mengabaikan dua hal penting, yaitu : pengulangan secara berkala dan pemberian pengalaman langsung. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pemberian pengalaman langsung semakin penting pada pendidikan IPA.
Pengulangan secara berkala barangkali perlu mendapat perhatian khusus. Rupa-rupanya ada kecenderungan pada sementara guru IPA, menduga fakta atau konsep sekali dimengerti akan tertanam dalam-dalam pada otak siswa, sehingga tidak akan terlupakan. Asumsi seperti ini tidak benar, sekalipun bagi siswa-siswa yang pandai.
Kesempatan untuk memperoleh pengulangan secara berkala, tidak berarti harus mengulang-ulang, menjelaskan atau membaca sesuatu, tetapi melalui pengulangan lewat latihan-latihan, menghubungkan konsep yang satu dengan konsep yang lainnya atau melalui identifikasi dan pemecahan masalah.
4. Pendekatan dan metode belajar hendaknya disesuaikan dengan bahan pelajaran
Kiranya dapat dimengerti bahwa pendekatan dan metode belajar untuk mata pelajaran yang satu berbeda dengan mata pelajaran yang lainnya. Pendekatan dan metode mengajar berenang berbeda dengan pendekatan dan metode mengajar matematika. Bahan pengajaran dapat dianggap sebagai pedoman untuk menentukan pendekatan dan metode mengajar yang akan kita gunakan. Dengan demikian, kita tidak dapat begitu saja mengatakan, misalnya metode ceramah itu buruk atau baik.
Apa yang disebut pendekatan atau metode mengajar yang baik, berbeda untuk mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran yang lain. Di dalam setiap mata pelajaran tidak dapat dihindari penggunaan beraneka ragam pendekatan dan metode mengajar. Tiap pokok bahasan sedikit banyaknya bersifat khas, dan menuntut penggunaan pendekatan dan metode yang has pula.
5. Pendekatan dan metode mengajar hendaknya disesuaikan dengan alokasi waktu dan sarana dan prasarana yang tersedia
Walaupun kita ingin mengajarkan sesuatu topik bahasan secara ideal, kita jangan lupa membatasi diri dengan ketersediaan waktu yang telah kita tetapkan. Jika hal itu tidak dapat kita penuhi (misalnya bahan pengajaran tidak selesai pada akhir semester) maka dapat kita katakan pendekatan dan metode yang kita gunakan itu tidak tepat.
Selain itu kita juga harus mempertimbangkan ketersediaan sarana dan prasarana. Kita tidak dapat memaksakan untuk menggunakan pendekatan atau metode belajar tertentu, jika sarana dan prasarana untuk metode dan pendekatan tersebut tidak tersedia.
6. Pendekatan dan metode belajar hendaknya sesuai dengan pribadi guru
Walaupun menurut hasil penelitian para ahli suatu metode dan pendekatan tertentu dianggap paling baik, tetapi jika seluruh guru beramai-ramai menggunakan metode yang sama, maka itu akan menjadi malapetaka bagi dunia pendidikan. Bagi siswa, akan lebih baik jika gurunya berlian-lain an, baik dalam kepribadian maupun dalam temperament dalam pendiriannya mengenal tugas kewajiban itu. Perbedaan-perbedaan itu juga baik bagi para guru. Justru karena perbedaan itu, masing-masing guru akan mengejewantahkan kekhususan nya.
Sebagai pedoman umum, kita dapat berpijak kepada hal berikut : apapun metode dan pendekatan yang dipakai oleh seorang guru, maka metode dan pendekatan itu harus dianggap sebagai yang terbaik bagi dirinya, harus sesuai dengan kepribadiannya. Pendekatan dan metode mengajar yang digunakan oleh seorang guru, tidak harus sama dengan yang digunakan oleh guru lain, tetapi juga tidak harus berbeda dengan pendekatan atau metode yang digunakan oleh guru lain, karena kita usah memaksakan diri untuk meniru metode yang dipakai orang lain, karena kita menganggap metode dan pendekatan itu baik, sedangkan kita menyadari, untuk berlaku seperti orang lain itu tidak mudah. Kita juga tidak perlu lain dari yang lain karena hanya anggapan, metode yang dipakai orang lain kita anggap buruk, sedangkan rasa-rasanya metode itu justru sesuai dengan selera kita.
Jadi yang penting adalah diri kita sendiri, kepribadian kita sendiri. Metode dan pendekatan mengajar yang kita gunakan hendaknya yang sesuai dengan pribadi kita, yang dapat kita lakukan dengan baik. Mungkin anda bertanya, jika seorang guru sudah terbiasa menggunakan metode atau pendekatan mengajar tertentu, apakah metode dan pendekatan itu sudah baik ? apakah metode dan pendekatan itu sudah sesuai dengan kepribadian guru itu ? apakah guru itu tidak pernah berfikir bahwa kemungkinan bagi dirinya ada metode dan pendekatan mengajar yang lebih baik, lebih sesuai dengan kepribadiannya ?
Sudahkah guru itu mencoba pendekatan dan metode lain yang barangkali lebih baik bagi dirinya ? bukan suatu pekerjaan yang mudah untuk “menemukan diri sendiri” seperti yang dikemukakan di atas, sebaiknya memang setiap guru berusaha untuk mawas diri dan selalu berusaha menemukan metode dan pendekatan mengajar yang benar-benar sesuai untuk dirinya dan yang terbaik buat para siswanya. Kita sadari atau tidak, pada kenyataannya para siswa sendiri yang akan memberikan penilaian kepada guru-gurunya.
BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan uraian-uraian diatas pada Bab terdahulu, maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan kontekstual adalah pendekatan yang digunakan pada proses belajar mengajar di mana materi kegiatannya berhubungan erat dengan pengalaman nyata siswa diluar sekolah
Pendekatan kontekstual mempunyai tujuh komponen utama, yaitu :
Konstruktivisme
Menemukan
Bertanya
Masyarakat belajar
Permodelan
Refleksi
Penilaian yang sebenarnya
Peranan pendekatan kontekstual pada dasarnya perpaduan antara berbagai macam pendekatan yang digunakan pada pembelajaran IPA yang telah ada sebelumnya, yaitu : meningkatkan motivasi siswa, mengembangkan kreativitas dan mental siswa dan membantu guru dalam mengaitkan isi atau materi pelajaran IPA dengan keadaan dunia nyata pada proses pembelajaran.
Pendekatan kontekstual adalah pengembangan dari cara pembelajaran yang telah ada.

Saran-Saran
Adapun saran-saran yang dapat disampaikan penulis bahwa sebagai seorang pengajar sekaligus pendidik, guru hendaknya mempunyai wawasan yang luas dan senantiasa sesuai dengan perkembangan zaman.
Keberhasilan suatu pembelajaran sangat tergantung kepada orang yang melakukannya, buka oleh kecanggihan metode pendekatan yang digunakan
Sebagai pihak yang paling berkompeten, guru dituntut agar lebih kreatif dan ber komitmen tinggi dalam meningkatkan mutu dan mengatasi permasalahan di bidang pendidikan.
Pihak pemerintah, komponen keamanan, pengusaha swasta serta masyarakat hendaknya, saling bahu membahu dalam meningkatkan mutu dan mengatasi permasalahan di dunia pendidikan Indonesia yang tercinta ini.
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, H, M, Drs, 1976, Tabloid “ Ilmu”, Yayasan Lembaga Studi dan Pengembangan Umat, Palangka Raya.

Depdikbud, 1985, Kurikulum Pendidikan Dasar (GBPP) Kelas V Sekolah Dasar (SD), Direktorat Pendidikan Dasar, Jakarta

Depdikbud, 1985, Kurikulum Pendidikan Dasar (GBPP) Kelas VI Sekolah Dasar (SD), Direktorat Pendidikan Dasar, Jakarta

Hadiat, 1996, Alam Sekitar Kita 3 ; IPA untuk Sekolah Dasar Kelas V, Balai Pustaka

Hadiat, Nuryani Rustaman, Yeni Hendriani dan Darliana, 1996, Alam Sekitar Kita ; IPA untuk Sekolah Dasar Kelas VI, Balai Pustaka, Jakarta

Halim, Amran, 1976, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta

Hamalik, Oemar, 1991, Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar, Berdasarkan CBSA, CV Sinar Biru, Bandung

Hornely, A.S dan E.C Parnwell, Siswojo, 1977 & 1984, Kamus Inggris Indonesia, PT.Pustaka Ilmu, Jakarta

Mansyur, Drs, H, 1998, Materi Pokok Strategi Belajar Mengajar, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam dan Universitas Terbuka, Jakarta

Nasution,Noehi, Drs, H, MA, Drs, AA, Ketut Biduastra, M.Ed, dkk, 1998, Pendidikan IPA di SD, Universitas Terbuka, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta

Rusyan Tabrani, dkk, 1991, Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar, CV, Karya Remaja, Jakarta

Seniawan, dkk, 1991, Pendekatan Keterampilan Proses, PT. Gramedia Widisarana Indonesia, Jakarta

Subiyanto, 1990, Strategi Belajar Mengajar Ilmu Pengetahuan Alam, IKIP, Malang Team Penyusun Buku Paket, 1997, Manusia dan Alam Sekitar, Balai Pustaka, Jakarta
Yuaelawati, Ella Noor Indra Astuti, S Karim Al Karhani, Nasito Hedi, Rachmat, Nurman Suryadi, Suparman, Tutang, Mudjiati, dan Tjajtu Sunarja S, 1993, Buku Pedoman Mengajar IPA untuk Guru Sekolah dasar Kelas III, IV, V dan VI, Depdikbud, Jakarta.

Satu Balasan ke PERANAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM DI SD-MI

  1. novi mengatakan:

    bisa tolong kirim yang khusus membahas pendekatan kontekstual

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: