PENGARUH TINGKAH LAKU GURU DALAM PEMBENTUKAN AKHLAK ANAK DIDIK

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan dan Penulisan 3
D. Metodologi Penulisan 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Penilaian 4
B. Fungsi Penilaian 4
C. Tujuan Penilaian 6
D. Prinsip-Prinsip Penilaian 6
E. Objek Penilaian 9
F. Alat-Alat Penilaian 13
G. Bentuk-Bentuk Pre test 14
H. Beberapa Petunjuk dan cara Pemberian Skor 17
I. Manfaat penilaian 20
BAB III ANALISIS TEORITIS
Cara penilaian Kegiatan Proses Belajar Mengajar 23

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan 25
B. Saran-Saran 26
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anak didik adalah subjek utama dalam pendidikan. Dialah yang belajar setiap saat. Belajar anak didik tidak mesti harus selalu berinteraksi dengan guru dalam proses interaksi edukatif. Dia juga bisa belajar mandiri tanpa harus menerima pelajaran dari guru di sekolah. Bagi anak didik belajar seorang diri merupakan kegiatan yang dominan, setelah pulang sekolah anak didik harus belajar di rumah, mereka mungkin menyusun jadwal belajar pada malam, pagi dan sore hari, demikian lah anak didik selalu belajar dengan jadwal belajar yang telah diprogramkan.
Tokoh-tokoh aliran behaviorisme beranggapan bahwa anak didik yang melakukan aktivitas belajar seperti membaca buku, mendengarkan penjelasan guru, mengarahkan pandangan kepada seorang guru yang menjelaskan di depan kelas, termasuk ke dalam kategori belajar, mereka tidak melihat ke dalam fenomena psikologis anak didik. Apakah anak didik menguasai buku yang telah di baca, apakah sudah betul-betul menguasai dan mengerti penjelasan guru, bukanlah masalah bagi para penganut aliran behaviorisme, yang penting bagi mereka, bila seorang telah melakukan aktivitas belajar, itulah belajar, aliran ini berpegang pada realitas yang terlihat dengan mata telanjang dengan mengabaikan proses mental dengan segala perubahannya sebagai akibat dari aktivitas belajar tersebut. Karenanya, anak didik selalu menjadi persoalan dalam proses pendidikan.

B. Rumusan Masalah
Adalah rumusan masalah dalam karya tulis ini adalah sebagai berikut:
1. Anak didik dan proses belajar
2. setiap anak didik berbeda
3. Belajar berdasarkan prinsip tertentu
4. Guru sebagai pribadi kunci
5. Guru sebagai pengajar dan pendidik

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dalam penyusunan karya tulis ini adalah :
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah “Metode Pengajaran
2. Untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan bagi penulis dalam menyebarkan ilmu yang sudah diperoleh baik disekolahan maupun diluar sekolah terutama tentang belajar yang baik dan efektif.
3. Untuk mengetahui manfaat dari belajar, serta peran guru dan murid dalam pendidikan

D. Metodologi Penulisan
Dalam penyusunan karya tulis ini metodologi penulisan yang digunakan ialah menggunakan kepustakaan, literatur dan ditambah dengan wawasan dan pengetahuan yang didapat selama dibangku kuliah.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Anak Didik dan Proses Belajar
Anak didik adalah subjek utama dalam pendidikan. Di sekolah anak didik belajar menurut gaya mereka masing-masing. Perilaku anak didik bermacam-macam dalam menerima pelajaran dari guru, seorang anak didik dengan tekun dan penuh konsentrasi menerima pelajaran dari guru atau mengerjakan tugas yang telah diberikan, anak didik yang lain disela-sela penjelasan guru, mengambil kesempatan membicarakan hal-hal lain yang terlepas dari masalah pelajaran, di waktu yang lain ada anak didik yang duduk melamun yang terlepas dari pengamatan guru.
Oleh karena itu, dalam kegiatan belajar mengajar, permasalahan yang timbul dari perilaku anak didik bermacam-macam ketika pelajaran sedang berlangsung di kelas.

B. Setiap Anak Didik Berbeda
Kalau persoalan perbedaan anak didik ini tidak mendapat empat dalam pendidikan tradisional, maka dalam pendidikan modern masalah perbedaan individual anak ini mendapatkan perhatian prioritas dengan memperhatikan perbedaan individual anak ini diharapkan guru jangan lagi mengulangi kesalahan-kesalahan dalam menilai anak didik sebagai pribadi. Kesalahan itu misalnya guru tidak mengindahkan perbedaan individual dan mewujudkan pelajaran kepada anak-anak yang sedang, terlampau banyak memperhatikan anak-anak yang bodoh atau yang pandai bagi kesanggupan anak. (Witheington : 1986 : 128)
Perbedaan individual anak didik cukup banyak, yang semuanya merupakan ciri dan kepribadian anak didik sebagai individu. Suharismi Ari Kunto; 1990 : 3) melihat kepribadian anak didik itu mencakup aspek jasmani, agama, intelektual, sosial, etika, dan estetika. Semuanya sebagai kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Keenam aspek diatas kendati semuanya dimiliki oleh anak didik. Karenanya, setiap anak didik punya keunikan sendiri-sendiri atas dasar keadaan yan demikian secara ideal perlakuan terhadap anak didik harus berbeda seutuhnya.
Diakui oleh Abu Ahmadi (1991:108) bahwa anak didik selain ada perbedaannya. Juga ada persamannya, paling tidak ada beberapa persamaan dan perbedaan yang harus mendapatkan perhatian seperti pada aspek kecerdasan (Inteligensi), kecakapan, prestasi, bakat, sikap, kebiasaan, ciri-ciri jasmaniah, minat, cita-cita, kebutuhan, kepribadian dan pola-pola dan tempo perkembangan serta latar belakang lingkungan.
Kadar daya serap anak didik terhadap bahan pelajaran bervariasi dengan tingkat keberhasilan mulai dari kurang, minimal, optimal dan maksimal. Hal ini sebagai indikator bahwa penguasaan bahan pelajaran oleh anak didik bermacam-macam untuk meminimalkan tingkat perbedaan yang ekstern ini, maka berikanlah waktu yang bervariasi dalam belajar anak didik. Dengan begitu, setiap anak didik dapat menguasai bahan pelajaran seluruhnya. Dan kesan ada anak pandai dan anak kurang pandai dapat di netralisasi

C. Belajar Berdasarkan Prinsip Tertentu
Telah dipahami bahwa belajar adalah berubah. Berubah berarti belajar, tidak berubah berarti tidak belajar. Itulah sebabnya hakikat belajar adalah perubahan tetapi tidak semua perubahan berarti belajar.
Setelah melakukan kegiatan belajar didapatkan hasil yang efektif dan efisien tentu saja diperlukan prinsip-prinsip belajar tertentu yang dapat melapangkan jalan ke arah keberhasilan belajar. Oleh karena itulah, beberapa prinsip belajar berikut ini perlu ditelaah dengan seksama untuk mendapatkan pengertian yang mendalam sehingga dapat menerangkan ke dalam kegiatan belajar baik di rumah maupun di sekolah.
1. Prinsip Bertolak Dari Motivasi
Motivasi untuk belajar adalah penting dalam melakukan kegiatan belajar. Motivasi merupakan pendorong yang dapat melahirkan kegiatan bagi seseorang. Seseorang yang bersemangat untuk menyelesaikan suatu kegiatan karena ada motivasi yang kuatir dalam dirinya. Motivasi sebagai suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk suatu kegiatan nyata untuk mencapai tujuan tertentu.
Motivasi merupakan faktor menentukan dan berfungsi menimbulkan, mendasari dan mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan sehingga semakin besar motivasinya akan semakin besar kesuksesan, tampak gigih, tidak mau menyerah, giat belajar. Sebaliknya mereka yang memotivasi lemah, tampak acuh, mudah putus asa, perhatiannya tidak tertuju pada pelajaran, suka mengganggu kelas, sering meninggalkan pelajaran, akibatnya banyak mengalami kesulitan belajar.
Akhirnya, motivasi mempunyai arti yang sangat penting dalam belajar. Fungsi motivasi yang terpenting adalah sebagai pendorong timbulnya aktivitas, sebagai pengarah, dan sebagai penggerak untuk melakukan suatu pekerjaan
2. Prinsip Pemusatan Perhatian
Dalam belajar di perlukan pemusatan perhatian. Tanpa ini perbuatan belajar akan menghasilkan kesia-siaan. Ketidakmampuan seseorang berkonsentrasi dalam belajar di sebabkan buyarnya perhatian terhadap suatu obyek. Hal inilah yang tidak di inginkan oleh siapapun yang sedang belajar.
Cukup banyak orang yang mengeluh akibat tidak mampu memusatkan perhatian, padahal bahan pelajaran yang harus di kuasai sangat banyak. Ingin belajar ada gangguan. Kalaupun dapat berkonsentrasi hanyalah dalam waktu yang relatif sangat sedikit. Tetapi hal ini masih untung, karena masih ada orang lain yang tidak mampu memusatkan perhatian walaupun sebentar.
Kini perlu di sadari betapa penting pemusatan perhatian dalam belajar. Tanpa pemusatan perhatian, motivasi yang besarpun tidak akan banyak dapat berbuat untuk membantu mengatasinya. Akhirnya, konsentrasi (pemusatan perhatian) adalah fungsi jiwa terhadap sesuatu masalah atau obyek dengan mengosongkan pikiran dari hal-hal lain, yang di anggap mengganggu.
3. Prinsip Pengambilan Pengertian Pokok
belajar yang berhasil adalah ditandai tersimpan nya sejumlah kesan didalam otak. Agar sebagian besar kesan-kesan itu dapat tersimpan didalam otak adalah tidak mudah, seperti membalikkan telapak tangan. Pokok pikiran itu di namakan “topik”, topik itulah yang di kembangkan menjadi sebuah paragraf. Pengambilan pengertian pokok mempercepat penguasaan bahan yang telah di pelajari.
4. Prinsip Pengulangan
belajar bukanlah proses dalam kehampaan, tetapi ber proses dengan penuh makna, agar kesan-kesan itu mudah diangkat ke alam sadar diperlukan frekuensi pengulangan dengan memanfaatkan kesan-kesan berupa ilmu pengetahuan itu, sesering mungkin. Artinya ilmu pengetahuan yang di dapat dari hasil belajar harus dimanfaatkan untuk menjawab berbagai permasalahan kehidupan. Bukan membiarkan nya mengisi otak tanpa arti.

D. Guru sebagai pribadi kunci
Secara keseluruhan guru adalah figure yang menarik perhatian semua orang, entah dalam keluarga, dalam masyarakat atau di sekolah. Tidak ada seorang pun yang tidak mengenal figure guru. Hal ini di karenakan figure guru itu bermacam-macam.
Masyarakat melihat guru sebagai figure yang kharismatik kemuliaan seorang guru tercermin dari kepribadian sebagai manifestasi dari sikap dan perilaku dari kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu sedikit cela dan nista dari pribadi guru, maka masyarakat akan mencaci habis-habisan dan hilanglah wibawa itu.
Di sekolah, figure guru merupakan pribadi kunci gurulah panutan utama bagi anak didik. Semua sikap dan perilaku guru akan dilihat, di dengar, dan ditiru olah anak didik.
Sebagai pribadi yang selalu di gugu dan di tiru, tidaklah berlebihan bila anak didik selalu mengharapkan figure guru yang senantiasa memperhatikan kepentingan mereka. Figure guru yang selalu memperhatikan kepentingan anak didik biasanya mendapatkan ekstra perhatian dari anak didik. Anak didik senang dengan sikap dan perilaku yang baik yang di perlihatkan oleh guru. Seperti di kutip oleh Syaiful Bahri Djamarah (1994:61), Frend W, Hart telah melakukan penelitian terhadap 3,725 orang anak didik HIG HTS School di Amerika Serikat. Dari hasil penelitiannya itu, dia menyimpulkan dengan mengemukakan 10 sikap yang baik dan di senangi anak didik sebagai berikut :
1. Sikap menolong pekerjaan sekolah dan menerangkan pelajaran dengan jelas dan mendalam serta menggunakan contoh-contoh yang baik dalam mengajar.
2. Periang dan gembira
3. Bersikap bersahabat, merasa sebagai anggota dalam kelompok kelas
4. Menaruh perhatian dan memahami anak didiknya
5. Berusaha agar pekerjaan menarik
6. Tegas, sanggup menguasai kelas dan dapat membangkitkan rasa hormat.
7. Tidak ada yang lebih di senangi, tak pilih kasih
8. Tidak suka mengomel, mencela, dan sarkastis.
9. Anak didik benar-benar merasakan bahwa ia mendapatkan sesuatu dari guru
10. Mempunyai pribadi yang dapat diambil contoh dari pihak anak didik dan masyarakat lingkungannya.

E. Guru sebagai pengajar dan pendidik
Guru adalah salah satu unsur manusia dalam proses pendidikan. Unsur manusiawi lainnya adalah anak didik. Guru dan anak didik berada dalam suatu relasi kejiwaan, keduanya berada dalam proses interaksi edukatif dengan tugas dan peranan yang berbeda. Guru yang mengajar dan mendidik dan anak didik yang belajar dengan menerima bahan pelajaran dari guru di kelas. Oleh karena itu, walaupun mereka berlainan secara fisik dan mental, tetapi mereka tetap seiring dan setujuan untuk mencapai kebaikan akhlak, kebaikan moral, kebaikan hukum, kebaikan sosial dan sebagainya.
Semua norma tersebut di atas tidak akan pernah dimiliki oleh anak didik bila guru tidak mentransformasikan nya dengan kegiatan belajar mengajar. Mengajar adalah tugas guru untuk menuangkan sejumlah bahan pelajaran kedalam otak anak didik. Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar, karenanya Withering ton (1986:1135) mengatakan bahwa teacher’s activity is o stimulate learning activity, teaching is not a routime process, it is original, inventive, creative. Mengajar adalah transfer of knowledge kepada anak didik. Mengajar selalu berlangsung dalam suatu kondisi yang di sengaja untuk diciptakan untuk mengantarkan anak didik kearah kemajuan dan kebaikan.
Guru adalah spiritual father bagi anak didik. Kemuliaan guru akan tercermin dalam kebaikan perilaku anak didik. Sekolah sebagai panti rehabilitasi anak merupakan laboratorium keilmuan bagi guru dalam mengajar dan membelajarkan anak didik dalam perspektif keilmuan. Di tempat ini anak didik belajar bebas terpimpin, aktif, kreatif, dan mandiri di bawah bimbingan dan pengawasan yang mulia dari guru.

BAB III
ANALISIS TEORITIS

A. Prinsip Mengajar Sebagai Pijakan Guru
Mengajar bukan tugas yang ringan bagi guru. Konsekuensi tanggung jawab guru juga berat. Di kelas, guru akan berhadapan dengan sekelompok anak didik dengan segala persamaan dan perbedaannya. Sikap dan perilaku anak didik bervariasi dengan indikator pendiam, suka bicara, suka mengganggu, aktif belajar, gemar menggambar, gemar menulis, malas, sebagai anak didik mereka masih memerlukan bimbingan dan pembinaan dari guru supaya menjadi anak yang cakap, aktif, kreatif, dan mandiri serta bertanggung jawab atas perbuatannya.
Karena tugas guru yang berat itu, maka mereka yang ber profesi sebagai guru harus memiliki dan menguasai prinsip-prinsip mengajar dan selalu aktif kreatif menerapkannya dalam k4egiatan belajar mengajar. Dengan begitu tidak ada kesan asal-asalan, bekerja dengan anggun jawab agar semua dari tujuan pendidikan dapat tercapai.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah kita membahas tentang topik yang menjadi bahasan pada pembahasan dalam karya tulis ini, maka penulis memberikan kesimpulan sebagai berikut:
1. Anak didik adalah subyek utama dalam pendidikan, dan guru adalah salah satu unsur manusia dalam proses pendidikan. Keduanya berada dalam proses interaksi, dengan tugas dan peranan yang berbeda.
2. Setiap anak didik berbeda, perbedaan individual anak didik cukup banyak, yang semuanya merupakan ciri dan kepribadian anak didik sebagai individu.
3. Figure guru merupakan pribadi kunci, karena guru panutan utama bagi anak didik.
4. Guru sebagai pengajar dan pendidik, mengajar adalah tugas guru untuk menuangkan sejumlah bahan pelajaran kedalam otak anak didik. Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar.
5. Sebagai guru harus memiliki dan menguasai prinsip-prinsip mengajar dan selalu aktif-kreatif menerapkannya dalam kegiatan belajar mengajar.

B. Saran-Saran
1. Dengan adanya anak didik dan guru maka proses belajar mengajar bisa berjalan dengan baik, sehingga pembelajaran dan tujuan dari pendidikan tercapai.
2. Saya harapkan kita sebagai calon pendidik bisa dan mampu menjadi seorang guru yang baik dan disenangi anak didik.
3. Saya harapkan guru harus mempunyai prinsip-prinsip dalam mengajar.

DAFTAR PUSTAKA

Abror, Abdu. Rachman. Psikologi pendidikan Cet. IV Yogyakarta Tiara Wacana Yogya, 1993

Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono. Psikologi Belajar. Cet I. Jakarta: Rineka Cipta 1991

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: