Al-Kuttab

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Penulisan
C. Sistematika Penulisan
D. Metode Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
AL KUTTAB ISLAM SEBAGAI LEMBAA PENDIDIKAN
UNTUK MEMBENTUK KEPRIBADIAN, KEBEBASAN
DAN DEMOKRASI
A. Pengaruh Kepribadian Guru Terhadap Pembinaan Murid
B. Guru dan Murid
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran-Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan adalah salah satu unsur dari aspek sosial budaya yang berperan sangat strategis dalam pembinaan suatu keluarga, masyarakat atau bangsa. Kestrategisan peranan ini pada intinya merupakan suatu ikhtiar yang dilaksanakan secara sadar, sistematis, terarah dan terpadu untuk memanusiakan peserta didik serta menjadikan mereka sebagai khalifah dimuka bumi.
Al-Kuttab merupakan salah satu lembaga pendidikan yang intinya memperhatikan masalah pembentukan kepribadian anak didiknya. Didalam makalah ini akan diuraikan secara singkat tentang Al-Kuttab Islam sebagai lembaga dalam pembentukan kepribadian anak didik, kebebasan dan demokrasi.

B. Tujuan penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah memenuhi tugas dari dosen mata pelajaran kuliah perbandingan pendidikan Islam sebagai syarat kelulusan mata kuliah ini, selain itu tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang Al-Kuttab Islam sebagai lembaga pendidikan untuk membentuk kepribadian, kebebasan dan demokrasi, agar dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

C. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini adalah :
Bab I Pendahuluan berisikan tentang latar belakang penulisan, tujuan penulisan dan sistematika penulisan
Bab II Pembahasan berisi tentang penjelasan Al-Kuttab Islam sebagai lembaga pendidikan untuk membentuk kepribadian guru terhadap pembinaan guru dan murid.
Bab III Penutup berisi tentang kesimpulan isi makalah ini dan saran-saran

BAB II
PEMBAHASAN
AL-KUTTAB ISLAM SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN UNTUK MEMBENTUK KEPRIBADIAN KEBEBASAN
DAN DEMOKRASI

Para ahli pendidikan Islam termasuk Al-Qabisi sangat memperhatikan masalah pembentukan kepribadian anak dimana menurut pandangan kita ditekankan pada kepribadian Islam yang bercirikan pada corak kepribadian yang beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya dan Hari Akhir.
Pendidikan Islam tidak hanya terbatas pada pembentukan kepribadian sajat, akan tetapi juga berusaha untuk merealisasikan tujuan lainnya, yaitu menumbuhkan baka-bakat anak dan mempersiapkan mereka bagi kehidupan sosialnya. Seperti Al-Qabisi sendiri tidak lupa memperhatikan kepada pembentukan kepribadian anak, menyediakan lingkungan bagi mereka, memberikan jalan pertumbuhan agar mereka mampu berdiri sendiri, mampu bertanggung jawab atas kehidupan mereka, menyesuaikan diri terhadap tuntutan lingkungan dimana mereka hidup.
Sebenarnya apa yang diberlakukan di lembaga Al-Kuttab yang memperbolehkan anak menulis surat kepada orang banyak, boleh mendiktekan ilmu antara satu anak dengan anak lain, dengan mengerti Al-Qur’an serta memahaminya maka anak yang berbakat pandai boleh mengajar anak lainnya. Hal ini memberi petunjuk bahwa dalam lembaga ini dikembangkan sikap menghormati kepribadian anak dan memberikan kebebasan kepada mereka, yang bermanfaat bagi orang yang tentunya sesuai dengan kemaslahatan mereka. Kesemuanya itu merupakan tanda demokrasi dalam pendidikan.
Al-Qhabisi juga tidak merupakan pengaruh kebiasaan kepada pembentukan kepribadian, maka ia cepat-cepat memberi, nasehat tentang perlunya pembentukan kebiasaan yang menandung akhlak yang benar. Yang menjadi dasar pembiasaan kepribadian agama sehingga anak akan menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran agama.

A. Pengaruh Kepribadian Guru Terhadap Pembinaan Murid
Setiap anak dengan tabiat nya cenderung untuk ingin meniru segala sesuatu dan mereka sangat peka terhadap orang-orang yang bergaul dengannya, ia mengambil segala sesuatu dan ingin menirukan cara mereka berbuat sesuatu, sedang guru adalah orang yang paling dekat dengannya sesudah kedua orang tua. Maka dari itu guru-guru pendidik pengaruhnya besar sekali terhadap akal pikiran dan kepribadian mereka.
Seorang guru wajib memiliki kepribadian ilmiah yang tinggi dan baik akhlaknya karena anak akan selalu meniru apa yang ada padanya melalui dorongan ingin menirukan dan ingin tahu. Yang disebut “dorongan ingin tahu” adalah pengaruh kejiwaan yang mendorong untuk menerima pandangan seseorang. Maka seorang guru hendaknya menggunakan insting dalam mendidik anak dan membiasakan mereka melakukan kebiasaan-kebiasaan yang terbaik. Anak pada umumnya berwatak suka mengikuti dan meniru.
Oleh karena itu guru wajib memberikan contoh perbuatan yang baik dalam segala hal baik segi ilmunya, cara memanifestasikan pikirannya dan cara bergaul yang baik serta contoh tauladan yang baik.
Al-Qabisi berpendapat bahwa guru Al Kuttab merupakan unsur yang berpengaruh dalam pendidikan Islam. Ia dikenal sebagai orang yang memiliki kepribadian yang utuh dan mampu memahami Al-Qur’an dalam segala segi nya, baik dalam arti hafalan, pemahaman, I’rab, maupun menuliskan nya, nahwa dan segi bahasanya.
Al-Qabisi juga berpendapat bahwa kepribadian agama dari guru itu bertumpu pada kemampuan menghafal Al-Qur’an sebagai sumber agama dan kemampuannya mendisiplin dirinya bersembahyang pada waktunya sebagai tiang nya agama.

B. Guru dan Murid
Guru adalah pemberi semangat bagi murid, dialah yang memberikan santapan kejiwaan dengan ilmu, membimbing dan meluruskan akhlak kepada murid, sehingga menghormati dan memberi nilai lebih pada guru.
Sedangkan Abu Ad-Darda mengemukakan pendapatnya bahwa sesungguhnya guru dan murid adalah dua teman dalam kebaikan tidak ada yang lebih baik selain keduanya.
1. Sifat-sifat yang harus dimiliki guru
a. Memiliki sifat zuhud dan mengajar karena mencari ridho Allah.
b. Guru harus suci dan bersih
c. Ikhlas dalam melaksanakan tugas
d. Bersikap tegas dan terhormat
e. Memiliki sikap kebapakkan/keibuan sebelum menjadi guru
f. Memahami karakteristik murid
g. Guru harus menguasai materi pelajaran
h. Guru harus menguasai materi pelajaran.
2. Tugas dan kewajiban guru
Adapun tugas guru sebagai berikut:
a. menanamkan akidah yang benar dan memperkokoh keimanan ketika mengajar
b. Memberikan nasehat kepada murid
c. Bersikap lembut terhadap murid dan mendidik nya dengan cara yang baik
Al Ghazali menyebutkan beberapa kewajiban guru dalam tugasnya sebagai pendidik sebagai berikut:
a. Guru dalam melaksanakan tugasnya tidak diperkenalkan mengharapkan imbalan dan balasan, tetapi hanya boleh berharap keridhaan Allah SWT.
b. Guru hendaknya menyayangi murid-murid nya dan memperlakukan nya sama dengan memperlakukan anak-anaknya sendiri.
c. Guru jangan membiarkan atau melupakan sedikit pun untuk memberikan nasehat kepada murid-murid nya.
d. Guru jangan membiarkan atau melupakan sedikit pun untuk memberikan nasehat kepada murid-murid nya
e. Guru hendaknya memperhatikan murid nya berperilaku tidak baik.
f. Guru hendaknya tidak menjelekkan eksistensi ilmu yang lain dihadapan murid-murid nya.
g. Guru hendaknya mengajarkan materi yang mudah, jelas, dan layak kepada murid yang lemah.

3. Hak dan kewajiban murid
Hak-hak murid diantaranya adalah diperolehnya kemudahan-kemudahan untuk memperoleh kapasitas pendidikan agar proses belajarnya bisa berlangsung lebih mudah setiap saat, dan kesempatan belajar tanpa harus dibedakan antara si kaya dan si miskin
Di antara kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan setia, adalah sebagai berikut:
a) Sebelum belajar, seorang murid hendaknya memulai dengan menyucikan hatinya
b) Hendaknya meorientasikan belajarnya dalam rangka memperbaiki dan menghiasi jiwanya dengan sifat-sifat yang mulia.
c) Mencapai ilmu hendaknya dilakukan secara terus-menerus.
d) Jangan mempersulit guru dengan banyak bertanya
e) Jangan membuka rahasia guru
f) Bersungguh-sungguh dalam belajar agar mendapatkan ilmu pengetahuan dengan hasil yang memuaskan.
g) Hendaknya menciptakan suasana kecintaan antara sesama murid
h) Hendaknya senantiasa memulai salam bila bertemu guru.
i) Menyediakan diri untuk belajar sampai akhir hayat.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pendidikan Islam tidak hanya terbatas pada pembentukan kepribadian saja, tetapi juga berusaha untuk merealisasikan tujuan lainnya.
Anak-anak yang berbakat menonjol di Al-Kuttab Islami diberi kesempatan berkembang, anak yang berbakat menonjol adalah anak yang kepandaian nya diantara lainnya.
Guru merupakan seseorang yang sangat berpengaruh terhadap pendidikan anak dan juga kepribadian anak. Anak didik cenderung meniru tingkah laku para pendidiknya. Seorang guru wajib memiliki kepribadian ilmiah yang tinggi dan baik akhlaknya.
Oleh karena itu guru wajib memberikan contoh atau perbuatan yang baik dalam segala hal.
Baik guru maupun murid mempunyai hak, tugas dan kewajiban masing-masing yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

B. Saran-Saran
Seorang guru yang baik harus memiliki sifat-sifat yang baik agar dapat ditiru oleh murid-murid nya karena murid cenderung meniru tingkah laku gurunya. Guru menanamkan sifat ikhlas kedalam jiwa murid-murid nya. Baik dan buruknya kepribadian anak didik tergantung dari gurunya sebagai seorang pendidik yang selalu menjadi tauladan atau panutan bagi anak didiknya.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Junbulah, Ali dan Al-Tuwaanisis Futuh Abdul. Perbandingan Pendidikan Islam. Rineka Cipta

Amir Faisal, Jusuf, Prof. Dr. Reorientasi Pendidikan Islam, Gema Insani Press. Jakarta. 1995

Asy Syalhub, Fuad. Guruku Muhammad, Gema Insani Pres. Jakarta. 2006

Athiyah Al-Abrasyi, Muhammad. Prof. Dr. Beberapa Pemikiran Pendidikan Islam. Titian Ilahi Press, Yogyakarta. 1996.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: